OJK Evaluasi Rencana Perpanjangan Restrukturisasi

    Husen Miftahudin - 22 September 2020 20:57 WIB
    OJK Evaluasi Rencana Perpanjangan Restrukturisasi
    Ilustrasi OJK - - Foto: MI/ Ramdani
    Jakarta: Deputi Komisioner Humas dan Logistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Anto Prabowo mengaku sedang mengevaluasi kebijakan restrukturisasi kredit yang tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) 11/2020. Langkah evaluasi ini dilakukan sebagai bahan pertimbangan OJK untuk memperpanjang kebijakan keringanan kredit bagi debitur terdampak pandemi.

    "Restrukturisasi kredit pembiayaan ini berjangka maksimum satu tahun, dan ini kita sedang melakukan evaluasi untuk melakukan rencana perpanjangannya," ujar Anto dalam diskusi virtual di Jakarta, Selasa, 22 September 2020.

    Menurut Anto, perpanjangan relaksasi kredit perlu memperhatikan sejumlah hal. Utamanya soal berbagai risiko kredit atau moral hazard yang bakal timbul pascaperpanjangan.

    "Jangan sampai debitur ini karena ada perpanjangan mereka tidak mau bergerak, tidak mau mencoba memulai bekerja lagi. Sehingga kita dengan perbankan akan benar-benar memonitor bahwa yang akan diberikan perpanjangan ini adalah debitur yang mau dan mampu untuk melakukan kegiatan usahanya di tengah pandemi," tegas Anto.

    Anto bilang, membuka kemungkinan perpanjangan relaksasi aturan tentang restrukturisasi kredit merupakan hal pertama yang disiapkan OJK sebagai bagian keberlanjutan dari upaya otoritas dalam memitigasi dampak pandemi covid-19.


    Adapun hal selanjutnya yang disiapkan OJK adalah terkait stimulus lanjutan pemerintah dalam mendorong penyaluran tambahan kredit modal kerja bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan korporasi dengan skema penjaminan pemerintah berjalan efektif.

    OJK juga mendorong perbankan untuk mengadaptasi proses bisnisnya di era adaptasi kebiasaan baru dengan mempercepat digitalisasi perbankan. "Tanpa melakukan ini tentunya bank tidak akan bisa melaksanakan fungsinya secara optimal," tegasnya.

    Kemudian, OJK mendukung mendukung usaha padat karya atau usaha yang memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap pertumbuhan ekonomi melalui tambahan relaksasi ketentuan di sektor jasa keuangan.

    "Terakhir, mendorong percepatan pengeluaran pemerintah, dukungan percepatan implementasi stimulus pemerintah (penjaminan kredit, penempatan dana dan subsidi bunga), melanjutkan reformasi pasar modal dan IKNB (Industri Keuangan Non Bank) serta menjaga sentimen market tetap positif," pungkas Anto.  


    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id