comscore

Rupiah Unjuk Gigi di Tengah Keyakinan Investor terhadap Utang Pemerintah

Husen Miftahudin - 07 Januari 2022 16:46 WIB
Rupiah Unjuk Gigi di Tengah Keyakinan Investor terhadap Utang Pemerintah
Mata uang rupiah. Foto : MI.
Jakarta: Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan para pelaku pasar optimistis pemerintah masih sanggup membayar utang plus bunganya. Kondisi ini membuat nilai tukar rupiah unjuk gigi terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

"Sebagai tolok ukurnya adalah pertumbuhan ekonomi yang terus menggeliat akibat stabilitas politik yang stabil, sehingga pemerintah bisa membayar sebagian utang dan bunganya," ujar Ibrahim dalam siaran persnya, Jumat, 7 Januari 2022.
Adapun, utang pemerintah di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali membengkak. Berdasarkan laman APBN KiTa Kementerian Keuangan per akhir November 2021, utang pemerintah sudah menembus Rp6.713,24 triliun.

Utang tersebut bertambah cukup signifikan apabila dibandingkan posisi utang pemerintah pada penghujung Oktober 2021 sebesar Rp6.687,28 triliun. Artinya, dalam sebulan, utang negara sudah bertambah sebesar Rp25,96 triliun. Penyebabnya adalah terfokusnya anggaran untuk penanganan pandemi covid-19 yang cukup besar.

"Dengan bertambahnya utang pemerintah, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga mengalami kenaikan. Pada November 2021 rasio utang terhadap PDB adalah 39,84 persen, sementara sebulan sebelumnya yakni 39,69 persen," papar dia.

Diketahui utang pemerintah Indonesia saat ini paling besar kontribusinya dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) domestik yakni sebesar Rp5.889,73 triliun yang terbagi dalam Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Selain SBN domestik, pemerintah juga berutang melalui penerbitan SBN valas sebesar Rp1.274 triliun per November 2021. Utang pemerintah lainnya bersumber dari pinjaman yakni sebesar Rp823,81 triliun meliputi pinjaman dalam negeri sebesar Rp12,48 triliun dan pinjaman luar negeri sebesar Rp811,03 triliun.

Dari faktor global, dolar AS akan mencatat kenaikan mingguan yang luas dan dapat memperpanjang reli jika data tenaga kerja AS memperkuat kasus kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Selain itu, peringatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa varian omicron covid-19 tidak dapat dianggap ringan, di samping imbal hasil yang lebih kuat, sehingga memberi dorongan pada aset safe-haven.

"Meskipun Omicron tampaknya menghasilkan penyakit yang kurang parah daripada jenis virus delta, namun tidak boleh dikategorikan sebagai ringan," tegasnya.

Di sisi lain, pejabat Federal Reserve AS yang paling dovish setuju dengan kebijakan hawkish bank sentral. Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan pemangkasan neraca Fed akan dilakukan setelah normalisasi suku bunga dana Fed.

"Presiden Fed St. Louis James Bullard mengatakan pada acara terpisah Fed dapat menaikkan suku bunga targetnya paling cepat pada Maret 2022," sebut Ibrahim.

Menurut alat CME FedWatch, investor saat ini mengantisipasi peluang lebih besar dari 70 persen untuk kenaikan suku bunga Fed Fund Rate, setidaknya 25 basis poin pada pertemuan Fed di Maret 2022.

Di sisi data, investor sekarang menunggu laporan pekerjaan AS, termasuk penggajian nonpertanian. Data klaim pengangguran menunjukkan jumlahnya naik menjadi 207 ribu untuk minggu sebelumnya.

"Di Asia Pasifik, data yang dirilis pada hari sebelumnya menunjukkan pengeluaran rumah tangga Jepang mengalami kontraksi 1,3 persen (yoy) dan 1,2 persen (mtm) di November. Indeks harga konsumen inti (CPI) Tokyo tumbuh 0,5 persen (mtm) pada Desember," jelas Ibrahim.

Rupiah diprediksi menguat

Adapun mengutip data Bloomberg pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, nilai tukar rupiah terhadap USD unjuk gigi ke level Rp14.350 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat sebanyak 40,5 poin atau setara 0,28 persen dari posisi Rp14.391 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah juga berada di zona hijau pada posisi Rp14.356 per USD. Rupiah menguat 37 poin atau setara 0,25 persen dari Rp14.393 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.360 per USD atau naik 36 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.396 per USD.

"Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup menguat tipis di rentang Rp14.330 per USD hingga Rp14.380 per USD," pungkas Ibrahim.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id