Ini Penyebab Rupiah Stagnan

    Husen Miftahudin - 28 Oktober 2021 17:07 WIB
    Ini Penyebab Rupiah Stagnan
    Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani



    Jakarta: Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini stagnan di tengah penantian para investor terhadap keputusan kebijakan Bank of Japan (BOJ) dan European Central Bank (ECB) yang akan diturunkan di kemudian hari.

    "Dalam perdagangan sore ini, rupiah ditutup stagnan walaupun sebelumnya sempat melemah 30 poin di level Rp14.172 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp14.173 per USD," ujar Ibrahim dikutip dari siaran persnya, Kamis, 28 Oktober 2021.

     



    Lebih lanjut Ibrahim menjelaskan bahwa kedua bank sentral tersebut diperkirakan akan mempertahankan kebijakan moneternya. ECB bahkan dimungkinkan akan mendorong kembali ekspektasi untuk kenaikan suku bunga pada 2022.

    "Mereka juga menunggu pertemuan kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat (AS) pada 3 November untuk petunjuk lebih lanjut tentang garis waktu pengurangan aset (tapering)," paparnya.

    Menurutnya, keputusan kebijakan bank sentral menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya mata uang benar-benar didorong oleh perbedaan suku bunga lantaran mereka mulai berada pada siklus normalisasi.

    Bank of Japan sendiri akan menurunkan keputusan kebijakannya pada Kamis ini. BOJ kemungkinan akan melihat melalui rebound dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) yang disebabkan oleh kenaikan harga komoditas dan penurunan nilai tukar yen yang lebih lemah. Termasuk mempertahankan status quo pada semua pengaturan kebijakan utama, seperti yang diperkirakan secara luas.

    "Bank Sentral Eropa juga menurunkan keputusan kebijakannya di kemudian hari, dengan investor fokus pada sikap bank sentral terhadap inflasi dan pengaruhnya terhadap sikap kebijakan yang sangat mudah saat ini," urai Ibrahim.

    Dari faktor domestik, Ibrahim menyebutkan bahwa Bank Indonesia (BI) memproyeksikan tingkat inflasi Oktober 2021 sebesar 0,08 persen (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Oktober 2021 secara tahun kalender adalah sebesar 0,88 persen (ytd) dan secara tahunan sebesar 1,62 persen (yoy).

    Di sisi lain, para ekonom memproyeksikan IHK pada Oktober 2021 akan mengalami peningkatan atau inflasi sebesar 0,12 persen (mtm). Secara tahunan, diperkirakan tingkat inflasi akan mencapai 1,66 persen (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 1,60 persen (yoy).

    Sementara, inflasi inti diperkirakan meningkat menjadi 1,36 persen (yoy), dari 1,30 persen (yoy) pada September 2021. Secara tahunan berjalan, tingkat inflasi akan mencapai 0,92 persen (ytd).

    Dengan perkembangan tersebut, jelasnya, peningkatan inflasi hingga akhir 2021 akan mencapai tingkat yang rendah, meski terjadi tekanan inflasi karena permintaan yang meningkat pada kuartal IV-2021.

    Ibrahim mengatakan bahwa peningkatan tersebut mengikuti pola musiman, serta didorong oleh kenaikan harga komoditas pangan dan tarif jasa transportasi. Beberapa komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga di antaranya cabai merah, minyak goreng, daging ayam, dan cabai rawit

    "Sedangkan sumber utama inflasi lainnya diperkirakan berasal dari biaya transportasi karena beberapa pelonggaran pembatasan covid-19 meningkatkan mobilitas publik," urainya.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id