Pimpin Kenaikan IHSG, Saham Perbankan Diburu Investor

    Ade Hapsari Lestarini, Media Indonesia - 09 Juni 2020 10:34 WIB
    Pimpin Kenaikan IHSG, Saham Perbankan Diburu Investor
    Foto: dok MI.
    Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 2,44 persen atau 122 poin dan menembus level psikologis sehingga ditutup pada level 5.070 dalam perdagangan kemarin. Saham perbankan berada di barisan terdepan yang mencatatkan lonjakan kenaikan harga.

    Saham Bank Negara Indonesia (BBNI) mencatatkan lonjakan tertinggi dari sisi persentase, yaitu 13,65 persen menjadi Rp4.830 per lembar. Diikuti Bank Tabungan Negara (BBTN) menguat 11,37 persen ke level Rp1.175 per lembar, Bank Mandiri (BMRI) naik 8,25 persen jadi Rp5.250, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik 6,11 persen ke level Rp3.300.

    Secara keseluruhan sektor keuangan (finance) mencatatkan kenaikan 45,91 poin dengan nilai transaksi mencapai Rp5,01 triliun, atau hampir 40 persen total nilai transaksi dalam perdagangan di bursa Rp13,5 triliun.

    Kenaikan juga terjadi pada sektor pertanian dan sektor properti masing-masing 3,82 persen dan 1,91 persen. Tingginya minat investor pada saham keuangan atau perbankan tidak lepas dari daya tahan sektor itu dalam menghadapi krisis akibat pandemi covid-19.

    Pelaksanaan relaksasi kredit bagi nasabah terdampak dapat membantu perbankan dalam menghindari kredit macet akibat situasi ekonomi memburuk. Ditambah lagi, perbankan, terutama bank BUMN, rata rata memiliki cadangan terhadap kredit macet di atas 100 persen. Jadi, bank mampu menyerap risiko bila terjadi pemburukan terhadap kualitas aset kredit mereka.

    Adapun transaksi saham BTN juga cukup besar dengan volume perdagangan mencapai 3,4 juta lembar saham dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp400 miliar.

    Jika dihitung sejak penutupan pada 29 Mei, harga saham BBTN sekitar Rp760, maka saham emiten bank yang fokus pada pembiayaan perumahan tersebut telah naik sekitar 54 persen hingga saat ini.

    Analis Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja menargetkan harga saham BBTN bisa mencapai Rp1.350. Hal ini didukung oleh kinerja bisnis BTN, khususnya di segmen KPR Subsidi masih terus tumbuh. Terlebih karena adanya tambahan kuota dari Subsidi Selisih Bunga sebagai salah satu kebijakan ekonomi Pemerintah di tengah pandemi covid-19.

    "Penambahan ini akan membantu NIM BBTN lebih baik," ujarnya.

    Analis Ciptadana Securities Erni Marsella Siahaan mengungkapkan saham BBTN masih layak dikoleksi karena potensi peningkatan Net Interest Margin (NIM) atau margin bunga bersih pada semester kedua tahun ini.

    "BBTN akan meraih tambahan likuiditas karena pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM), sehingga NIM bisa naik dengan cost of fund yang makin rendah karena tambahan kuota dari skema Subsidi Selisih Bunga (SSB)," papar Eni dalam hasil risetnya.

    Eni memprediksi NIM BBTN akan naik tipis menjadi 3,1-3,3 persen pada akhir 2020 ini dibandingkan posisi NIM pada kuartal pertama tahun ini di 3,1 persen. Kiat BTN dalam memperbaiki kualitas asetnya dinilai positif, dalam analisanya, upaya manajemen untuk mengikis rasio kredit macet dengan cara lelang dapat menekan NPL di level 4,9 persen.

    Dalam analisanya, Eni mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp1.275 per saham. Adapun saham BBTN saat ini masih diperdagangkan cukup murah dengan Price to Book Value atau PBV 0,5x lebih rendah dari rata-rata PBV saat ini di 1,1x.

    "Perubahan target price karena perubahan asumsi NIM, dan biaya kredit," papar Eni.

    Chief Economist BTN Winang Budoyo menilai kenaikan harga saham perseroan membuktikan kepercayaan investor yang cukup besar terhadap kinerja BTN. "Selain itu kehadiran Tapera juga direspons positif pasar dengan mengoleksi saham BBTN," ujar Winang.

    Menurut Winang, dengan backlog yang masih cukup besar, pada dasarnya permintaan akan rumah masih tinggi, terutama untuk perumahan subsidi. Dengan ditandatanganinya PP 25/2020 tentang Tapera semakin meyakinkan pasar bahwa program perumahan subsidi masih menjadi program unggulan Pemerintah.

    Dia menjelaskan adanya Tapera akan membuat pembiayaan program perumahan subsidi semakin stabil, jumlahnya berpotensi semakin besar dan tidak akan lagi tergantung pada APBN. Dengan kontribusi BTN terhadap KPR Subsidi yg lebih dari 90 persen, pasar percaya bahwa penyaluran dana Tapera akan sebagian besar melalui BTN.

    "Karena itulah pasar melihat bahwa PP 25 sangat menguntungkan bagi sektor perumahan termasuk di sini BTN tentunya," pungkas Winang.

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id