BI Perlu Pangkas Pangkas Suku Bunga Jadi 3,50%, Ini Alasannya

    Husen Miftahudin - 17 Februari 2021 13:31 WIB
    BI Perlu Pangkas Pangkas Suku Bunga Jadi 3,50%, Ini Alasannya
    Bank Indonesia (BI). Foto : MI/Panca Syurkani
    Jakarta: Bank Indonesia (BI) dinilai perlu memangkas suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,50 persen. Langkah tersebut dinilai penting guna mendukung agenda pemulihan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas sektor keuangan.

    "Dengan mempertimbangkan situasi domestik dan eksternal saat ini, kami melihat bahwa saat ini adalah momentum yang tepat bagi BI untuk kembali memangkas suku bunga kebijakan sebesar 25 bps menjadi 3,50 persen bulan ini," ungkap Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam rilis Analisis Makroekonomi Edisi Februari 2021, Rabu, 17 Februari 2021.

    Dalam hasil kajian tersebut, LPEM FEB UI memandang ada beberapa faktor yang membuat bank sentral perlu menurunkan suku bunga kebijakannya. Pertama, tekanan harga yang terkendali di awal tahun 2021.

    Inflasi masih berada di bawah kisaran target BI selama delapan bulan berturut-turut dan diperkirakan tidak akan meningkat tajam dalam waktu dekat mengingat prospek ekonomi yang menantang. Memasuki 2021, tidak ada tanda-tanda perbaikan inflasi karena laju inflasi tahunan di Januari 2021 tercatat sebesar 1,55 persen (yoy), turun dari 1,68 persen (yoy) pada bulan sebelumnya karena permintaan masih rendah akibat pengaruh pandemi covid-19 yang memporak-porandakan perekonomian dan menggerus daya beli masyarakat.

    Demikian pula secara bulanan, laju inflasi headline pada Januari 2021 tercatat sebesar 0,26 persen (mtm), lebih rendah secara signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 0,38 persen (mtm). "Rendahnya laju inflasi saat ini dipengaruhi oleh turunnya tekanan inflasi volatile food dan inflasi inti serta deflasi yang terjadi pada kelompok administered prices," paparnya.

    Faktor selanjutnya adalah tanda-tanda perbaikan ekonomi di tengah masih berlanjutnya pandemi. Meski dampak krisis covid-19 masih terus berlanjut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan pulih secara bertahap di tahun ini didukung oleh serangkaian kebijakan yang substansial untuk meningkatkan kepercayaan rumah tangga dan bisnis serta pemberian bantuan sosial yang memadai dan peluncuran vaksin untuk mengurangi tingkat penyebaran infeksi.

    "Waktunya sekarang tampaknya tepat bagi Sovereign Wealth Fund atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yang baru didirikan untuk mendorong investasi asing yang substansial masuk ke Indonesia dan untuk menciptakan lebih banyak peluang kerja dengan tujuan menyeluruh untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang," urai Riefky.

    Faktor ketiga adalah situasi eksternal yang membaik. Kondisi eksternal menunjukkan secercah harapan dengan berlanjutnya aliran masuk portofolio, berlanjutnya surplus perdagangan bulanan, dan cadangan devisa yang besar sehingga memperkuat stabilitas rupiah.

    Lonjakan portofolio yang terjadi selama bulan ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah satu tahun turun dari 4,5 persen di Januari 2021 menjadi 4,0 persen. Sementara, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun relatif tidak berubah di 6,3 persen.

    Di sisi lain, surplus neraca perdagangan berlanjut akibat perbaikan permintaan global. Hal ini tercermin dari surplus neraca perdagangan yang terjadi pada Januari 2021 sebesar USD1,95 miliar, namun sedikit lebih rendah dari surplus Desember 2020 yang tercatat sebesar USD2,09 miliar.

    Angka perdagangan Januari 2021 menunjukkan bahwa ekspor tumbuh lebih dari ekspektasi, tercatat sebesar 12,2 persen. Sedangkan impor kembali mengalami kontraksi sebesar minus 6,5 persen dibandingkan nilainya pada periode yang sama tahun lalu.

    Dengan ekspor membukukan kenaikan yang kuat sementara impor tetap lemah, surplus neraca perdagangan bulanan kesembilan berturut-turut ini menunjukkan bahwa permintaan masih lemah untuk impor barang modal karena bisnis tidak dapat beroperasi pada kapasitas penuh sementara permintaan agregat global secara bertahap menunjukkan perbaikan.

    Dengan kondisi eksternal yang lebih baik, BI dengan cepat diuntungkan oleh arus masuk modal yang kuat sepanjang tahun ini melalui peningkatan cadangan devisa. Ini akan berguna pada saat BI perlu menjaga stabilitas eksternal.

    Di Januari 2021, cadangan devisa BI mencapai USD138 miliar, lebih tinggi dari USD135,9 miliar pada akhir tahun 2020 dan menjadi cadangan devisa tertinggi dalam sejarah. Cadangan devisa saat ini menunjukkan kecukupan likuiditas yang melengkapi BI dalam mendukung stabilitas rupiah jika terjadi potensi guncangan di masa depan.

    Secara keseluruhan, dengan mempertimbangkan situasi domestik dan eksternal, LPEM menilai bahwa saat ini merupakan momentum yang tepat bagi Bank Indonesia untuk kembali melakukan penurunan suku bunga kebijakan guna mempercepat pemulihan ekonomi di semester pertama tahun ini.

    "Meskipun dampak dan efektivitas kebijakan tersebut mungkin kurang optimal selama pandemi belum berakhir, kami yakin opsi untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut lebih baik daripada menahannya dengan harapan implikasi dari kebijakan ini dapat mendorong kegiatan ekonomi lebih cepat dibandingkan menghadapi penundaan dalam pemulihan ekonomi," pungkas Riefky.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id