Data Ekonomi AS Mentereng, Dolar Perkasa Lawan Rupiah

    Husen Miftahudin - 04 Juni 2021 16:20 WIB
    Data Ekonomi AS Mentereng, Dolar Perkasa Lawan Rupiah
    Ilustrasi dolar AS menguat - - Foto: dok Antara



    Jakarta: Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan akhir pekan ini melemah imbas menterengnya data ekonomi Amerika Serikat (AS). Akibat hal tersebut, dolar AS juga mengalami penguatan terhadap mata uang negara-negara lainnya di dunia.

    "Dolar menguat terhadap mata uang lainnya dan mencapai yang tertinggi multiminggu setelah serentetan data ekonomi yang kuat menjelang rilis gaji bulanan. Ini meningkatkan kemungkinan pengetatan awal Federal Reserve," ungkap Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan resminya, Jumat, 4 Juni 2021.

     



    Adapun Negeri Paman Sam mencatat bahwa sebanyak 385 ribu orang menganggur dalam seminggu terakhir. Angka itu lebih rendah dari perkiraan Investing.com sebesar 390 ribu hingga 405 ribu orang yang menganggur di AS.

    "Jumlah klaim mengalami penurunan selama lima minggu berturut-turut ke rekor terendah 400 ribu orang, level yang tidak terlihat sejak awal pandemi covid-19," paparnya.


    Sementara itu, pengusaha swasta AS meningkatkan perekrutan pada Mei, dengan perubahan pekerjaan non-pertanian ADP meningkat menjadi 978 ribu orang. Penurunan jumlah kasus covid-19 memungkinkan bisnis untuk dibuka kembali dan meningkatkan permintaan.

    Menurut Ibrahim, investor saat ini tengah menunggu data ketenagakerjaan lebih lanjut, termasuk data non-farm payrolls untuk Mei. Data tersebut dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang prospek ekonomi dan langkah kebijakan Federal Reserve AS selanjutnya.

    "Investor juga tetap khawatir tentang perlambatan langkah-langkah stimulus Fed, didorong oleh prospek inflasi yang tidak terkendali. Namun, beberapa pejabat Fed menegaskan kembali bahwa tekanan harga akan bersifat sementara, dan bank sentral akan mempertahankan langkah-langkah stimulus saat ini tidak berubah untuk sementara waktu," jelas dia.

    Presiden Fed New York John Williams mengatakan bahwa pemulihan ekonomi AS dari covid-19 tidak cukup kuat bagi Fed untuk mulai mengurangi dukungannya untuk bisnis, tetapi menambahkan masuk akal untuk mulai berbicara tentang pengurangan langkah-langkah stimulus.

    "Ini mengikuti komentar Presiden Philadelphia Patrick Harker tentang 'perlahan, hati-hati' mundur pada pembelian pada waktu yang tepat sehari sebelumnya," urai Ibrahim.

    Adapun mengutip data Bloomberg pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, nilai tukar rupiah terhadap USD melemah ke level Rp14.295 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 10 poin atau setara 0,07 persen dari posisi Rp14.285 per USD pada penutupan perdagangan di hari sebelumnya.

    Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah juga berada di zona merah pada posisi Rp14.315 per USD. Rupiah melemah 20 poin atau setara 0,14 persen dari Rp14.295 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

    Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.316 per USD atau melemah 19 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.297 per USD.

    "Untuk perdagangan besok Senin, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp14.295 per USD sampai Rp14.325 per USD," pungkas Ibrahim.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id