Jaga Stabilitas Rupiah, Kerja Sama Mata Uang Lokal Kurangi Dominasi Dolar AS

    Eko Nordiansyah - 23 September 2021 22:53 WIB
    Jaga Stabilitas Rupiah, Kerja Sama Mata Uang Lokal Kurangi Dominasi Dolar AS
    Ilustrasi transaksi menggunakan mata uang lokal - - Foto: Medcom



    Jakarta: Bank Indonesia (BI) mendorong penggunaan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) dalam perdagangan bilateral. Langkah ini salah satunya untuk mengurangi tekanan nilai tukar rupiah terhadap penggunaan mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

    Direktur Eksekutif Kepala Departemen Internasional BI Doddy Zulverdi mengatakan transaksi bilateral dengan mata uang lokal ini tidaklah bersifat mandatori. Menurutnya, penggunaan LCS tergantung pada mekanisme pasar sehingga bank sentral hanya memfasilitasi.

     



    "Yang jelas, BI memfasilitasi kerja sama dengan negara mitra, kita juga berikan fleksibilitas kepada bank-bank ACCD yang ditunjuk. Harapannya pelaku ekonomi akan tertarik dengan sendirinya," kata dia dalam webinar 'Dampak Penerapan Local Currency Settlement Diperluas, Bagaimana Nasib Rupiah?' di Jakarta, Kamis, 23 September 2021.

    Saat ini sudah ada empat negara yang menerapkan LCS dengan Indonesia yakni Jepang, Malaysia, Thailand, dan Tiongkok. Meski bukanlah suatu keharusan, namun saat ini BI dengan pemerintah sedang merumuskan insentif bagi para pelaku usaha yang menerapkan LCS.

    "Kita juga coba sinergi dengan pemerintah. Kita sudah ada kesepakatan, saat ini pemerintah sedang dalam kajian untuk membantu memberikan insentif bagi pelaku ekonomi yang menggunakan LCS ini," ungkapnya.

    Ia menambahkan, BI akan memperluas mitra transaksi LCS ini dengan negara lain di Asean ataupun mitra dagang seperti Taiwan, India, Arab Saudi, Filipina, hingga Australia. Namun kerja sama ini memerlukan persetujuan dari kedua negara yang bersangkutan.

    Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, dampak dari implementasi LCS akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan mengurangi volatilitas rupiah. Hal ini tidak hanya dialami oleh Indonesia saja, tapi juga negara berkembang yang nilai mata uangnya masih soft currency.

    "Meskipun ada sentimen pasar, kita harapkan dengan penggunaan LCS ini dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap dolar dan mendorong rupiah tetap berada dalam level fundamentalnya," ujar dia.

    Anggota Komisi XI DPR-RI Mukhamad Misbakhun menambahkan, ketergantungan terhadap dolar AS yang terus turun dalam perdagangan antar negara, yang bisa berdampak terhadap perekonomian dalam negeri. Dengan begitu, ekonomi nasional akan lebih kuat.

    Menurut dia, langkah-langkah yang dilakukan BI juga sejalan dengan adanya koordinasi antara Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) sebagai kepanjangan tangan DPR dalam mengawasi lembaga independen tersebut. Keterbukaan BSBI telah menelurkan berbagai kebijakan yang dianggap mampu mengatasi persoalan ekonomi.

    "Ketika kita tahu kebijakan BI dan memberikan masukan, BSBI menjadikan hal tersebut bahan untuk disampaikan kepada Bank Indonesia dalam kaitan kebijakan ke depan. Badan supervisi itu menurut saya memberikan manfaat yang ideal dan memadai dari sisi akademik literate, policy literate, dan macro economy literate," tutup Misbakhun.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id