comscore

Tips Menjaga Ketahanan Keuangan di Tengah Pandemi

Antara - 29 Januari 2022 15:00 WIB
Tips Menjaga Ketahanan Keuangan di Tengah Pandemi
Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Jakarta: Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2019 melaporkan hanya 6,19 persen dari 12.773 responden yang memiliki ketahanan keuangan apabila mengalami pengeluaran besar secara tiba-tiba tanpa mendapatkan bantuan.

Dengan demikian, diperlukan adanya edukasi keuangan terkait pentingnya produk tabungan, investasi, dan proteksi sebagai persiapan dalam keadaan darurat.
"Survei tersebut pun mengindikasikan pengelolaan dan ketahanan keuangan individu hanya ditentukan dari kemampuan orang tersebut untuk terus bekerja atau menarik uang dari tabungan," demikian isi survei tersebut dilansir Antara, Sabtu, 29 Januari 2022.

Asuransi dan dana pensiun bukan pilihan utama


Dengan kata lain, instrumen keuangan seperti asuransi dan dana pensiun bukan menjadi pilihan utama responden dalam menjaga ketahanan keuangan individu, begitu pula instrumen keuangan seperti reksa dana dan saham yang tidak menjadi pilihan untuk menciptakan penerimaan pasif yang berkelanjutan.

Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai melek dengan tabungan dan investasi, terutama sejak adanya pandemi covid-19.

Pandemi yang kini masih melanda dunia memunculkan ketidakpastian kepada seluruh golongan masyarakat, terutama bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah.

Untuk itu, ketahanan keuangan menjadi ilmu yang perlu dipelajari di tengah masih besarnya ketidakpastian akibat covid-19.

Di tengah upaya dunia dalam pemulihan ekonomi, varian baru covid-19, yakni Omicron kembali melanda dan menimbulkan banyak kekhawatiran bagi masyarakat dunia.

Dalam situasi ketidakpastian, menyiapkan dana darurat dengan berinvestasi menjadi salah satu cara untuk menjaga ketahanan keuangan.


Menjaga ketahanan keuangan


Chief Investment Officer PT Sinarmas Asset Management Genta Wira Anjalu menuturkan terdapat beberapa cara menjaga ketahanan keuangan.

Pertama, tingkatkan dana darurat dan investasi. Idealnya pada kondisi normal porsi tabungan dan investasi adalah sebesar 10 persen dari pendapatan, sedangkan sebanyak 50 persen digunakan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, utang dan kewajiban 30 persen, dan hiburan 10 persen.

Namun, dalam kondisi krisis, penyisihan pendapatan untuk disimpan wajib meningkat sehingga akan berubah menjadi 25 persen untuk tabungan dan investasi, 45 persen untuk kebutuhan sehari-hari, 25 persen untuk utang dan kewajiban, serta lima persen untuk hiburan.

Sementara untuk dana darurat, persentase yang ideal adalah menyesuaikan dengan status setiap orang, seperti untuk lajang misalnya, yang memerlukan dana darurat sebanyak empat kali pengeluaran bulanan.

Untuk yang sudah menikah dan berkeluarga dengan memiliki anak, dana darurat yang ideal perlu dipersiapkan sebanyak enam sampai 12 kali pengeluaran bulanan, begitu pula untuk pengusaha dan pekerja lepas sebesar 12 kali pengeluaran.

Cara kedua untuk menjaga ketahanan keuangan yaitu melalui investasi sedini mungkin, sehingga sangat baik memulai investasi dengan nilai berapapun sejak usia muda.

Kemudian yang ketiga, memperpanjang time horizon alias horison waktu investasi yang merupakan panduan bagi investor dalam menentukan rentang waktu berinvestasi dalam suatu aset. Semakin panjang time horizon, investor dapat memperkecil potensi kerugian.
 

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id