Beban Cukai Gerus Laba Gudang Garam Semester I

    Annisa ayu artanti - 25 Agustus 2020 10:32 WIB
    Beban Cukai Gerus Laba Gudang Garam Semester I
    Pendapatan Gudang Garam tertekan cukai rokok. Foto: Dok. Perusahaan
    Jakarta: Emiten produsen rokok PT Gudang Garam Tbk mencatat penurunan laba pada semester I-2020 sebesar 10,7 persen dibandingkan semester I-2019. Pada paruh pertama tahun ini, laba bersih Gudang Garam hanya Rp3,8 triliun.

    Manajemen menjelaskan penurunan laba tersebut disebabkan oleh beban biaya pokok penjualan yang lebih tinggi secara tahunan.

    Tercatat biaya pokok penjualan pada periode ini sebesar Rp44,9 triliun, meningkat 5,2 persen dari sebelumnya Rp42,8 triliun.

    Sementara pendapatan hanya tumbuh 1,7 persen dari Rp52,7 triliun menjadi Rp53,7 triliun. Pada semester I-2020, perusahaan hanya menjual rokok sebanyak 42,5 miliar batang, menurun 8,8 persen dari semester I-2019 yang mencapai 46,6 miliar batang.

    "SKT kami mengalami peningkatan 7,5 persen dari 4,2 miliar batang jadi 4,5 miliar batang. Sedangkan SKM full flavor mengalami penurunan dari 38,3 miliar jadi 35,8 miliar batang. Yang mengalami penurunan paling dalam segmen light and mild dari 4,2 miliar batang, jadi 2,3 miliar batang," kata Corporate Secretary Gudang Garam Heru Budiman dalam dalam Public Expose Live 2020, Senin, 24 Agustus 2020.

    Akhirnya, laba bruto pun tergerus 13 persen dari Rp10 triliun menjadi Rp8,7 triliun. Marjin laba bruto turun dari 18,9 persen menjadi 16,1 persen akibat kenaikan beban cukai, termasuk PPn dan pajak rokok yang menjadi Rp35,8 triliun.

    "Beban cukai tersebut 79,5 persen dari biaya pokok penjualan pada paruh pertama tahun ini. Sebelumnya beban cukai ini sebesar 78,4 persen dari biaya pokok penjualan," jelasnya.

    Sementara untuk total aset pada periode ini tercatat naik 18,7 persen dibandingkan posisi yang sama pada 2019 yakni menjadi Rp79,2 triliun.

    Total liabilitas mengalami peningkatan 9,5 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya menjadi Rp24,4 triliun terutama disebabkan oleh kenaikan jumlah pinjaman jangka pendek dan utang cukai, PPn, dan pajak rokok.

    Rasio total liabilitas terhadap ekuitas mengalami perbaikan dari 50 persen menjadi 45 persen.
       

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id