BNI Fokus Garap UMKM Pertanian Melalui Smart Farming

    Ade Hapsari Lestarini - 04 Juli 2020 16:39 WIB
    BNI Fokus Garap UMKM Pertanian Melalui <i>Smart Farming</i>
    Foto: dok MI.
    Jakarta: PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) makin fokus menggarap sektor UMKM pertanian. Sektor ini sudah digalakkan sejak 2019 silam.

    Kala itu, BNI meluncurkan Program Smart Farming berbasis Internet of Things (IOT) melalui Gerakan Menyongsong Pertanian 4.0, sebagai upaya implementasi pertanian presisi dengan pemanfaatan teknologi digital guna meningkatkan produksi dengan proses budidaya yang semakin efektif. Alhasil, melalui sektor ini kesejahteraan masyarakat dapat terkerek naik.

    Manfaat dari kehadiran program smart farming ini setidaknya telah dirasakan oleh para petani di tujuh titik di Indonesia.

    Fero Kamahendra, petani Situbondo menceritakan bahwa di daerahnya, petani telah merasakan manfaat yang positif dari kehadiran program smart farming ini. Selain mendapat dukungan permodalan untuk bertani, petani di daerahnya telah didukung dengan alat sensor, BNI benar-benar memperhatikan masyarakat pertanian di daerahnya.

    Di tempat terpisah, Pujiono, petani di Malang menceritakan dengan kehadiran BNI ke daerahnya, semangat petani semakin meningkat, bahkan lahan tidur yang sebelumnya kurang produktif telah dimanfaatkan sebagai lahan hijau untuk ditanami tanaman pangan dan hortikultura.

    Ribut, petani lainnya di Banyuwangi, menceritakan dengan dukungan seperti ini petani juga semakin mudah mendapat rekomendasi pertanian yang paling akurat dan hasilnya terlihat saat panen. Saat panen terakhir, volume dan kualitas hasil panen meningkat.

    Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) BNI Tambok P Setyawati mengungkapkan sektor pertanian termasuk yang paling tangguh di kondisi pandemi seperti sekarang ini.

    "Karena itu, kita banyak melakukan pelatihan digital marketing bagi teman-teman UMKM agar bisa meningkatkan aktivitas penjualan secara online," ujarnya dalam keterangan resminya, di Jakarta, Sabtu, 4 Juli 2020.

    Menurut Tambok, Program Smart Farming membidik para petani milenial, dengan cara memberikan berbagai pelatihan seperti nerapkan teknologi sensor tanah dan cuaca, sehingga dapat memantau kondisi lahan secara real time. Dengan program tersebut, petani diberikan pemahaman tentang pemanfaatan lahan yang terbatas namun hasilnya memuaskan dan biaya lebih efisiensi.

    "Jadi, efektivitas dan produktivitasnya terukur karena semua kegiatan petani berdasarkan data analytic yang akurat. Temen-temen petani milenial sangat tertarik mengikuti Program Smart Faming, dan diantara mereka ada yang sudah mengalami beberapa kali panen," jelasnya.

    Bantu Debitur saat Pandemi

    Selain menggelar berbagai pelatihan bagi petani milenial, selama pandemi covid-19 ini BNI juga getol membantu sektor UMKM lainnya. Satu diantaranya adalah sektor pariwisata, hotel, dan industri terkait. BNI telah membantu para pelaku bisnis dengan menggelar webniar tentang upaya-upaya sektor pariwisata dalam mengadapatasi kondisi pandemi seperti sekarang ini.

    Tambok melihat, industri pariwisata dan perhotelan beserta turunannya merupakan salah sektor bisnis yang paling terdampak pandemi covid-19. Kondisi masyarakat cenderung menunda pelesiran ke tempat wisata berimbas pada sepinya hotel, home stay, dan UMKM yang menjajakan suvenir atau oleh-oleh. Karenanya, selama pademi covid-19 ini BNI telah melakukan berbagai kegiatan yang mendukung aktivitas UMKM, salah satunya memberikan kemudahan dalam bertransaksi.

    "Silahkan UMKM memanfaatkan berbagai produk serta layanan BNI, kapan dan di mana saja. Enggak perlu datang ke outlet kami, cukup dari rumah mengajukan kredit secara online, persetujuan cukup lewat WhatsApp, e-mail, tanda tangannya pakai digital signature. Teman-teman UMKM bisa tenang bekerja dari rumah sambil tetap menjaga kesehatan," ajaknya.

    Bukan itu saja, BNI juga mengajak dan memfasilitasi UMKM menggunakan sistem ritel modern serta mengikutsertakan mereka dalam ajang pameran baik nasional maupun internasional. Bila berkeinginan melakukan pemasaran ke luar negeri, UMKM bisa menggunakan kantor cabang BNI di berbagai negara seperti Singapura, London, Hong Kong, New York, dan Tokyo.

    "Mereka bisa menampilkan produk di sana," tambah Tambok.

    Namun di masa pandemi ini, lanjut dia, BNI memang mengurangi aktivitas promosi UMKM ke luar negeri dan menggantinya dengan memberikan bantuan untuk penjualan melalui marketplace.

    "Sebelumnya kami juga lakukan coaching clinic terhadap pemasaran mereka di marketplace dan potensi bisnis ekspor, juga mendorong jangkauan pasar melalui promosi di showroom di bagian branch kami termasuk yang di luar negeri," ungkapnya.

    Pertumbuhan jumlah debitur UMKM BNI dalam tahun ini telah mencapai 32 persen. Di 2015 nasabah UMKM hanya 97 ribuan namun hingga Juni 2020 ini, jumlahnya mencapai 280 ribu. Adapun pertumbuhan penyaluran kredit UMKM selama lima tahun terakhir mencapai sekitar 16 persen, dengan portofolio sebesar Rp55 triliun di 2016 dan sekarang Rp102 triliun.

    "Nasabah kita mampu bertahan di tengah kondisi covid-19, sehingga pada Maret, April, Mei, dan Juni ini kami lebih fokus dan terbuka. Meski ada beberapa kendala, kami benar-benar melakukan pendekatan pada UMKM," pungkas Tambok.

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id