comscore

Efek Kenaikan Suku Bunga The Fed Masih Terasa, Rupiah Lagi-lagi Tersungkur

Husen Miftahudin - 20 Juni 2022 16:40 WIB
Efek Kenaikan Suku Bunga The Fed Masih Terasa, Rupiah Lagi-lagi Tersungkur
Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali tersungkur terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Ini akibat para investor terus menilai prospek kebijakan moneter AS dan risiko resesi, menyusul kenaikan suku bunga terbesar Federal Reserve sejak 1995.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, bank sentral utama memperketat kebijakan moneter pekan lalu dengan kenaikan suku bunga. Federal Reserve memutuskan untuk menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, terbesar sejak 1994, meskipun risiko resesi meningkat.
"The Fed berjanji pekan lalu komitmennya untuk menjinakkan inflasi adalah 'tanpa syarat'. Sementara Gubernur Fed Christopher Waller mengatakan ia akan mendukung kenaikan lagi sebesar 75 basis poin pada bulan Juli," jelas Ibrahim dalam analisis hariannya, Senin, 20 Juni 2022.

Di sisi lain, BOJ melawan gelombang pengetatan The Fed. Bank of England menaikkan setengah poin, namun yang mengejutkan dari Swiss National Bank yang menolak serangan dari spekulan pasar obligasi yang menguji komitmen otoritas moneter terhadap toleransi 25 basis poinnya sekitar target nol persen untuk imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10-tahun.

"Swiss National Bank menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin. Sementara Bank of England mengikuti untuk menaikkan menjadi 1,25 persen," terangnya.

Ibrahim pun meminta pemerintah dan Bank Indonesia mewaspadai kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS sebesar 75 basis poin menjadi 1,5 persen sampai 1,75 persen, yang dampaknya sudah terasa dari melemahnya mata uang rupiah.

Menurutnya, kenaikan suku bunga tersebut membuat arus modal asing kembali keluar (capital outflow) di pasar surat utang karena spread antara yield SBN dan yield treasury di tenor yang sama semakin menyempit.

"Investor asing cenderung mengalihkan dana ke negara maju, memicu capital outflow di emerging market," ungkap dia.

Selain itu, penyempitan likuiditas karena bank dalam posisi mengejar pertumbuhan kredit yang tinggi pasca-pandemi melandai tapi terhalang oleh kenaikan tingkat suku bunga.

"Perebutan dana antara pemerintah dan bank dalam menjaga tingkat pembiayaan defisit anggaran akan membuat dana deposan domestik berpindah ke SBN. Crowding out sangat membahayakan kondisi likuiditas di sektor keuangan," tegas Ibrahim.

Mengutip data Bloomberg pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap USD melemah ke level Rp14.836 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 12 poin atau setara 0,08 persen dari posisi Rp14.824 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp14.833 per USD. Rupiah melemah delapan poin atau setara 0,05 persen dari Rp14.825 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp14.836 per USD atau turun delapan poin dari perdagangan di hari sebelumnya sebesar Rp14.828 per USD.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.820 per USD hingga Rp14.870 per USD," tutup Ibrahim.

(HUS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id