comscore

Optimistis Inklusi Keuangan 90%, Bos OJK: Semua Pelajar SMP Wajib Punya Tabungan Digital

Husen Miftahudin - 11 Oktober 2021 17:52 WIB
Optimistis Inklusi Keuangan 90%, Bos OJK: Semua Pelajar SMP Wajib Punya Tabungan Digital
OJK. Foto : Mi/Ramdani.
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso optimistis hadirnya teknologi bisa mengakselerasi target inklusi keuangan di Indonesia. Bahkan dengan masifnya perkembangan teknologi, target inklusi keuangan sebesar 90 persen di 2024, bisa tercapai.

"Dalam hal ini, hadirnya digital ini sudah memberikan fakta bahwa inklusi keuangan kita sudah meningkat cukup besar. Kami yakin di tahun 2024 kita dapat mencapai target 90 persen sebagaimana arahan Bapak Presiden," ucap Wimboh dalam pembukaan OJK Virtual Innovation Day 2021, Senin, 11 Oktober 2021.

 



Adapun berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan OJK pada 2019, indeks inklusi keuangan Indonesia sudah mencapai 76,19 persen. Angka tersebut meningkat dibanding hasil survei OJK di 2016 yang baru sebesar 67,8 persen.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Wimboh ingin mewajibkan semua pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) memiliki tabungan digital. Hal itu guna mengakselerasi pencapaian target inklusi keuangan sebesar 90 persen.

"Dengan hadirnya digitalisasi ini, kita ingin menyampaikan bahwa seluruh anak SMP harus sudah masuk ke dalam ekosistem tabungan yang berbasis digital," tegasnya.

Untuk itu, sambung dia, OJK menerbitkan sejumlah kebijakan guna mengakomodasi percepatan pertumbuhan industri jasa keuangan berbasis digital. Salah satu kebijakan yang diterbitkan ialah Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) terkait Bank Digital.

"Kami kemarin menerbitkan kebijakan yang kita sebut bank digital yang memberikan ruang bank untuk masuk ke dalam ekosistem digital serta mengembangkan produk dan layanan bank berbasis digital, baik bank skala besar, menengah, dan kecil, termasuk BPR (Bank Perkreditan Rakyat)," tutur Wimboh.

Di sisi lain, ia mengemukakan bahwa pihaknya akan terus proaktif dalam memitigasi berbagai risiko yang mungkin muncul dari target inklusi keuangan digital tersebut. Di antaranya dengan memfokuskan diri pada risiko siber (cyber risk).

"Sehingga cyber security harus kami tingkatkan, dan juga bagaimana perlindungan data pribadi juga menjadi perhatian yang tentunya bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan agar masyarakat dapat terlindungi berkaitan dengan berbagai risiko tadi," pungkas Wimboh.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id