BI Harus Tahan Suku Bunga demi Jaga Nilai Tukar Rupiah

    Husen Miftahudin - 21 Juli 2021 15:34 WIB
    BI Harus Tahan Suku Bunga demi Jaga Nilai Tukar Rupiah
    Ilustrasi logo Bank Indonesia - - Foto: MI/ Usman Iskandar



    Jakarta: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menilai Bank Indonesia (BI) masih perlu mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate untuk periode Juli 2021 di level 3,50 persen.
     
    Hal ini guna menjaga nilai tukar dan stabilitas keuangan di tengah perpanjangan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.

    "Kami melihat bahwa BI perlu mempertahankan suku bunga acuan di 3,50 persen pada Juli 2021. Menjaga nilai tukar dan stabilitas keuangan di masa ketidakpastian krisis covid-19 harus menjadi prioritas utama bank sentral," ucap Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam Analisis Makroekonomi Edisi Juli 2021, Rabu, 21 Juli 2021.

     



    Riefky memperkirakan peningkatan jumlah kasus covid-19 akan menghambat pemulihan ekonomi. Seluruh indikator ekonomi, seperti inflasi, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), Purchasing Managers' Index (PMI), dan surplus perdagangan mulai menunjukkan prospek yang suram.

    Beberapa pihak memandang kondisi yang sedang berlangsung sebagai trade-off antara ekonomi dan kesehatan masyarakat. Namun ia percaya bahwa pemulihan ekonomi tidak akan terjadi tanpa adanya masyarakat yang sehat. Oleh karena itu, pemerintah harus memprioritaskan penanganan krisis kesehatan masyarakat.

    "Kami memperkirakan indikator-indikator tersebut akan terus mengalami penurunan di Juli, terutama setelah pemerintah memutuskan untuk menerapkan PPKM darurat di Jawa dan Bali," tuturnya.

    Dari sisi eksternal, pasar keuangan saat ini mengamati dengan cermat bagaimana varian delta mendorong kembali krisis covid-19 di seluruh dunia sambil memantau bagaimana pembuat kebijakan, terutama The Fed, akan bereaksi.

    Meskipun penurunan suku bunga kebijakan biasanya merupakan alat utama yang diterapkan oleh bank sentral selama periode inflasi rendah, Riefky melihat bahwa penurunan suku bunga kebijakan saat ini akan sia-sia karena sisi penawaran praktis masih redup di masa meningkatnya covid-19 ini.

    Adapun rupiah cenderung bergerak sideways karena investor mempertimbangkan perkembangan terakhir dalam kasus covid-19 dan sikap The Fed. "Terlepas dari kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tidak ada ruang bagi BI untuk mengubah kebijakannya karena sisi penawaran masih redup," pungkas Riefky.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id