Dolar AS Beringas Gebuk Rupiah

    Husen Miftahudin - 03 Mei 2021 18:29 WIB
    Dolar AS Beringas Gebuk Rupiah
    Ilustrasi. Foto : MI/Usman Iskandar.



    Jakarta: Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan kenaikan dolar Amerika Serikat (AS) membuat nilai tukar rupiah lesu pada perdagangan hari ini. Hal tersebut karena kehati-hatian investor terhadap pertemuan bank sentral dan data ekonomi AS.

    "Dolar berpegang teguh pada kenaikan baru-baru ini pada Senin karena investor berhati-hati di awal minggu yang dijejali dengan pertemuan bank sentral dan data ekonomi AS, mencari petunjuk tentang prospek inflasi global, dan tanggapan pembuat kebijakan," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Senin, 3 Mei 2021.






    Menurut Ibrahim, ada sedikit drama global yang bisa dicerna pasar selama akhir pekan. Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan bahwa tidak ada dampak inflasi dari rencana pengeluaran pemerintah, karena pengeluaran baru untuk keluarga dan infrastruktur akan tersebar selama bertahun-tahun.

    Belanja konsumen AS rebound pada Maret karena rumah tangga menerima tambahan uang bantuan covid-19 dari pemerintah. Investor sekarang menunggu lebih banyak data ekonomi AS, termasuk Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Institute of Supply Management (ISM) dan penggajian non-pertanian April.

    Sementara itu, Presiden Dallas Federal Reserve Bank Robert Kaplan pada Jumat menyarankan untuk mengurangi dukungan bank sentral untuk ekonomi atas kekhawatiran ketidakseimbangan di pasar keuangan, dibandingkan dengan sikap dovish Fed saat ini.

    "Powell akan berpidato pada Senin dan akan diikuti oleh sejumlah pejabat Fed minggu ini. Pertemuan kebijakan bank sentral juga dijadwalkan minggu ini di Australia, Inggris, dan Norwegia," papar Ibrahim.

    Di Australia, tidak ada perubahan kebijakan yang diharapkan pada hari Selasa meskipun pedagang akan melihat pidato oleh wakil gubernur Reserve Bank of Australia Guy Debelle pada hari Kamis untuk wawasan tentang pemikiran bank seputar prospek pembelian obligasi.

    "Pembelian aset juga menjadi fokus ketika Bank of England bertemu pada hari Kamis, serta mungkin peningkatan prospek ekonominya. Sementara Norges Bank - yang memproyeksikan tingkat kenaikan tahun ini - diperkirakan akan tetap dengan nada hawkish-nya," tuturnya.

    Dari sisi internal, Ibrahim mengakui ada secercah harapan bahwa ekonomi di kuartal II-2021 akan membaik dan Indonesia akan keluar dari resesi dengan pertumbuhan ekonomi di atas 7,0 persen. Hal ini didukung dengan lonjakan masyarakat yang memenuhi berbagai pasar hingga mal untuk berbelanja memenuhi kebutuhan Hari Raya Idulfitri.

    "Sehingga, perputaran uang di kota besar terutama DKI Jakarta terus melonjak dan ini sesuai dengan target pemerintah," sebut Ibrahim.

    Menurutnya, konsumsi masyarakat akan didorong oleh aktivitas Lebaran yang berpotensi lebih baik dibanding tahun lalu. Peningkatan aktivitas ini tak lepas dari terkendalinya jumlah kasus dan telah berjalannya vaksinasi.

    "Ini semua berkat kebijakan pemerintah yang melarang warganya eksodus ke daerah sebelum Lebaran akibat covid-19 yang sampai saat ini sedang mengganas terutama di India, Jepang, dan di Asia," jelas Ibrahim.

    Adapun mengutip data Bloomberg pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap USD melemah tipis lima poin atau setara 0,03 persen ke posisi Rp14.450 per USD dari Rp14.445 per USD pada penutupan perdagangan di hari sebelumnya.

    Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah justru berada di zona hijau pada posisi Rp14.445 per USD. Rupiah menguat lima poin atau setara 0,03 persen dari Rp14.450 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

    Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.467 per USD atau menguat 14 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.453 per USD.

    "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuasi namun ditutup menguat di rentang Rp14.465 per USD hingga Rp14.520 per USD," pungkas Ibrahim.

    "Untuk perdagangan Selasa besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuasi namun ditutup menguat di rentang Rp14.440 per USD hingga Rp14.480 per USD," tutup Ibrahim.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id