Perbaikan Data Penjualan Eceran Belum Mampu Angkat Rupiah

    Husen Miftahudin - 09 September 2020 18:01 WIB
    Perbaikan Data Penjualan Eceran Belum Mampu Angkat Rupiah
    Foto: dok MI/Ramdani.
    Jakarta: Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini mengalami pelemahan meski data penjualan eceran pada Juli 2020 mengalami perbaikan yang tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang tumbuh minus 12,3 persen (yoy), membaik dari bulan sebelumnya sebesar minus 17,1 persen (yoy).

    Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penjualan ritel belum bisa lepas dari kontraksi selama delapan bulan beruntun. Bahkan pada Agustus 2020, Bank Indonesia memperkirakan penjualan ritel masih turun dengan kontraksi IPR 10,1 persen (yoy).

    "Dengan begitu, rantai kontraksi penjualan ritel kian panjang menjadi sembilan bulan berturut-turut," ujar Ibrahim dalam keterangannya kepada Medcom.id, Rabu, 9 September 2020.

    Kabar baiknya, sebut Ibrahim, kontraksi penjualan ritel terus melandai. Sejak menyentuh 'kerak neraka' pada Mei 2020, laju penurunan IPR berangsur menipis. Hal ini seiring perbaikan penjualan yang diperkirakan terjadi pada hampir seluruh kelompok komoditas yang disurvei.

    Penjualan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kontraksi paling rendah dengan pertumbuhan sebesar minus 1,9 persen (yoy). Hal itu sejalan dengan peningkatan daya beli masyarakat dan implementasi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

    "Daya beli masyarakat boleh membaik, tetapi sepertinya masih lemah. Ini tercermin dari laju inflasi inti yang semakin menukik," paparnya.

    Ia menjelaskan, inflasi inti merupakan kelompok barang dan jasa yang harganya susah bergerak, hal ini menjadi penanda kekuatan daya beli. Ketika harga barang dan jasa yang 'bandel' bisa turun, maka permintaan betul-betul mengalami pelemahan.

    "Pada Agustus 2020, inflasi inti Indonesia tercatat 2,03 persen (yoy). Ini adalah yang terendah setidaknya sejak 2009," ucap Ibrahim.

    Di sisi lain pemerintah harus bisa mengimbangi dengan fasilitas kesehatan yang dimiliki. Jumlah kasus yang tidak terkendali akan berdampak pada penanganan dan fasilitas kesehatan milik pemerintah.

    "Kenapa mengkhawatirkan? Karena kapasitas rumah sakit ada batasnya. Bila jumlah yang membutuhkan perawatan makin banyak di atas kemampuan kapasitas rumah sakit dan jumlah tenaga medis yang terbatas, maka ini merupakan masalah besar dan mengkhawatirkan," jelas dia.

    Adapun dalam penutupan perdagangan hari ini nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp14.799 per USD dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya di level Rp14.765 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 34 poin atau setara 0,23 persen.

    Menukil data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp14.790 per USD. Rupiah justru mengalami penguatan sebanyak tiga poin atau setara 0,02 persen, dari Rp14.793 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

    Sementara berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.853 per USD atau melemah 55 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.798 per USD.

    "Dalam perdagangan besok rupiah masih akan berfluktuatif dan ditutup melemah antara 20 hingga 60 poin di level Rp14.750 per USD sampai Rp14.850 per USD," tutup Ibrahim.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id