BI: Uang Beredar di Mei 2020 Capai Rp6.468,2 Triliun

    Husen Miftahudin - 30 Juni 2020 15:19 WIB
    BI: Uang Beredar di Mei 2020 Capai Rp6.468,2 Triliun
    Ilustrasi uang beredar - - Foto: MI/ Usman Iskandar
    Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp6.468,2 triliun pada Mei 2020. Uang yang beredar tersebut tumbuh 10,4 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 8,6 persen (yoy).

    Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan akselerasi pertumbuhan M2 disebabkan oleh peningkatan seluruh komponennya, baik uang beredar dalam arti sempit (M1), uang kuasi (dana simpanan masyarakat di perbankan), maupun surat berharga selain saham.

    "Pertumbuhan M1 meningkat dari 8,4 persen (yoy) pada April 2020 menjadi 9,7 persen (yoy) pada Mei 2020, disebabkan oleh peningkatan giro rupiah," jelas Onny dalam siaran pers yang dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, Selasa, 30 Juni 2020.

    Adapun giro rupiah mengalami pertumbuhan dari 9,7 persen (yoy) pada April 2020 menjadi 16,4 persen (yoy) di Mei 2020. Ini disebabkan karena adanya peningkatan saldo rupiah milik nasabah korporasi dan perorangan.

    Sementara, uang kuasi yang memiliki pangsa terhadap M2 sebesar 74,1 persen dengan nilai sebesar Rp4.790,2 triliun, mengalami akselerasi dari 8,5 persen pada April 2020 menjadi 10,5 persen (yoy) pada Mei 2020. Hal ini seiring dengan peningkatan simpanan berjangka, tabungan, maupun giro valuta asing (valas).

    Sejalan dengan hal tersebut, surat berharga selain saham juga tumbuh dari 20,6 persen (yoy) pada April 2020 menjadi 37,5 persen (yoy) pada Mei 2020. "Ini terutama didorong oleh peningkatan surat berharga rupiah bank yang dimiliki oleh perusahaan korporasi finansial."

    Berdasarkan faktor yang memengaruhi, peningkatan M2 pada Mei 2020 disebabkan oleh akselerasi aktiva luar negeri bersih serta ekspansi operasi keuangan pemerintah. Aktiva luar negeri bersih Mei 2020 meningkat sebesar 18,2 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan pada April 2020 sebesar 15,8 persen (yoy).


    "Disebabkan oleh peningkatan tagihan sistem moneter kepada bukan penduduk sejalan dengan peningkatan cadangan devisa (cadev) pada Mei 2020," tuturnya.

    Selain itu, keuangan pemerintah tercatat ekspansi sejalan dengan peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat, dari 1,7 persen (yoy) pada April 2020 menjadi 11 persen (yoy) pada Mei 2020. Ekspansi tersebut disebabkan oleh peningkatan tagihan sistem moneter kepada pemerintah pusat berupa surat berharga, baik dalam rupiah maupun valas.

    Di sisi lain, penyaluran kredit Mei 2020 menunjukkan perlambatan menjadi 2,4 persen (yoy), dari 5,1 persen (yoy) pada bulan sebelumnya. Perlambatan terjadi pada seluruh jenis penggunaan kredit, baik kredit modal kerja, investasi, maupun konsumsi.

    "Perlambatan penyaluran kredit terutama terjadi baik pada debitur korporasi maupun perorangan, masing-masing dari 5,7 persen (yoy) dan 4,4 persen (yoy) pada April 2020 menjadi 2,9 persen (yoy) dan 2,2 persen (yoy) pada Mei 2020," tutup Onny.




    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id