comscore

IHSG Sore Masih Tak Bernyali Menguat, 234 Saham Tertekan

Angga Bratadharma - 13 Mei 2022 16:15 WIB
IHSG Sore Masih Tak Bernyali Menguat, 234 Saham Tertekan
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id/Angga Bratadharma
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir perdagangan Jumat berakhir di wilayah negatif. Meski demikian, indeks hari ini sempat bergerak di area hijau. Kebijakan agresif dari The Fed untuk terus menaikkan suku bunga dan ledakan inflasi di Amerika Serikat (AS) terus membayangi indeks acuan saham Indonesia.

IHSG Jumat, 13 Mei 2022, perdagangan sore ditutup di posisi 6.597 dengan level tertinggi di 6.633 dan terendah di 6.509. Volume perdagangan hari ini tercatat sebanyak 22 miliar lembar saham senilai Rp18 triliun. Sebanyak 302 saham menguat, sebanyak 234 saham tertekan, dan sebanyak 149 saham tidak diperdagangkan.
Di sisi lain, Wall Street mengakhiri sesi yang berfluktuasi dengan bervariasi pada penutupan perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Investor mengkhawatirkan inflasi tinggi yang berkelanjutan bisa tetap meningkat, mendorong pengetatan yang lebih agresif dari Federal Reserve.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 103,81 poin atau 0,33 persen menjadi 31.730,30. Indeks S&P 500 kehilangan 5,1 poin atau 0,13 persen menjadi 3.930,08. Indeks Komposit Nasdaq ditutup bertambah 6,73 poin atau 0,06 persen menjadi 11.370,96.

Sebanyak enam dari 11 sektor utama S&P 500 mengakhiri hari di wilayah positif, dengan sektor perawatan kesehatan menikmati persentase kenaikan terbesar. Sementara itu, sektor utilitas dan teknologi mengalami kerugian terbesar.

Ketiga indeks utama saham AS maju-mundur dan S&P 500 datang dalam jarak yang sangat dekat untuk mengonfirmasi memasuki pasar bearish setelah 'jatuh pingsan' dari level tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada 3 Januari.

"Ayunan liar naik atau turun dua persen ini sangat jarang, dan menunjukkan jiwa investor yang sangat rapuh untuk jumlah volatilitas yang terjadi dalam jangka waktu yang singkat," kata Kepala Strategi Pasar LPL Financial Ryan Detrick, di Charlotte, North Carolina.

"Kekhawatiran yang berkelanjutan atas inflasi, yang tampaknya telah mencapai puncaknya namun tetap tinggi, terus menjadi perhatian investor, mendorong S&P ke ambang pasar bearish," jelasnya.

Saham-saham megacap terkemuka, yang berkembang selama lingkungan pandemi dengan minat rendah, adalah penyeret terbesar, dengan Apple Inc dan Microsoft Corp memberikan tekanan terberat.


(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id