Rupiah Masih Terkapar Imbas Naiknya Kasus Covid-19

    Husen Miftahudin - 21 Juli 2021 16:47 WIB
    Rupiah Masih Terkapar Imbas Naiknya Kasus Covid-19
    Ilustrasi. Foto: dok.MI



    Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah tertekan imbas menguatnya dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini. Dolar AS berdiri di ambang puncak baru tahun ini karena kegelisahan tentang melonjaknya infeksi virus covid-19.

    "Hal tersebut menopang kenaikan yang dibangun di atas ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dengan investor menunggu Bank Sentral Eropa untuk isyarat mereka berikutnya," ungkap Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam siaran persnya, Rabu, 21 Juli 2021.

     



    Lebih lanjut Ibrahim menjelaskan bahwa infeksi kasus covid-19 AS telah melonjak, terutama di daerah bagian yang belum divaksinasi. Data ini yang mengakibatkan dolar naik karena perbedaan hasil telah bergerak melawannya.

    "Imbal hasil Treasury AS 10-tahun benchmark turun ke level terendah lima bulan di bawah 1,20 persen di tengah skeptisisme baru tentang rebound ekonomi yang kuat dari pandemi," paparnya.

    Menurut Ibrahim, melonjaknya dolar AS akibat terjadinya pergeseran ekspektasi tingkat pertumbuhan yang relatif melemahkan arus modal keluar dari AS dan meningkatkan daya tarik investasi berdenominasi dolar.

    Di samping itu, investor saat ini tengah menunggu keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa yang akan dijatuhkan pada hari Kamis. Nada dovish diharapkan setelah Presiden Christine Lagarde mengisyaratkan penyesuaian panduan selama wawancara di pekan sebelumnya.

    Dengan bank sentral mengumumkan strategi baru yang memungkinkan bank untuk menolerir inflasi di atas target dua persen dan, Lagarde mengatakan panduan kebijakan akan disesuaikan dengan tujuan baru ini, investor secara luas mengharapkan nada dovish dalam keputusan kebijakan hari Kamis.

    "Tidak ada perubahan dalam bias ECB tidak mungkin cukup untuk mengirim euro lebih tinggi. Pada saat yang sama, setiap pergeseran ECB ke arah interpretasi dovish dari tinjauan strategis akan menggarisbawahi tren penurunan euro/dolar baru-baru ini," paparnya.

    Dari faktor internal, perpanjangan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat di Jawa-Bali hingga 25 Juli 2021 masih menjadi salah satu sentimen utama yang membayangi pasar Tanah Air, seiring dengan lonjakan kasus covid-19 akhir-akhir ini.

    "Hingga kemarin, penambahan kasus baru covid-19 masih tinggi alias belum berada di bawah target yang dipatok pemerintah ketika memutuskan aturan PPKM darurat, yakni 10 ribu kasus baru per hari," urai Ibrahim.

    Adapun mengutip data Bloomberg pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap USD melemah ke level Rp14.542 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 25 poin atau setara 0,17 persen dari posisi Rp14.517 per USD pada penutupan perdagangan di hari sebelumnya.

    Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah stagnan di posisi Rp14.520 per USD. Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.554 per USD atau melemah 30 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.524 per USD.

    "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.530 per USD hingga Rp14.570 per USD," pungkas Ibrahim.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id