BSI Perlu Libatkan Pesantren hingga Masjid Genjot Literasi Keuangan Syariah

    Husen Miftahudin - 10 Februari 2021 19:08 WIB
    BSI Perlu Libatkan Pesantren hingga Masjid Genjot Literasi Keuangan Syariah
    Ketua DK OJK Wimboh Santoso - - Foto: Antara/ Andreas Fitri Atmoko



    Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyambut baik kehadiran Bank Syariah Indonesia (BSI). Entitas baru hasil merger tiga bank syariah Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) ini bisa menjadi motor dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

    Terkait hal ini, Wimboh meminta BSI untuk membuat masyarakat melek keuangan syariah. Ini penting mengingat literasi masyarakat terhadap keuangan syariah hanya 8,93 persen, tertinggal jauh bila dibandingkan literasi masyarakat terhadap keuangan konvensional yang sudah mencapai 38,03 persen.






    Menurutnya, sinergi merupakan hal yang penting untuk membangun ekosistem syariah yang berkualitas. Selain mengincar pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), BSI juga perlu melibatkan umat melalui lembaga pendidikan Islam, masjid, hingga pesantren.

    "Pembinaan umat melalui sinergi berbagai platform, baik itu lembaga pesantren, masjid, dan juga lembaga pemerintah lainnya. Ini satu hal yang harus kita lakukan, dan kami harapkan kelahiran di tahun pertama (BSI) ini kita harus bisa menunjukkan satu quick way, sebab ini yang ditunggu masyarakat," ujar Wimboh dalam Webinar Perbankan Syariah, Rabu, 10 Februari 2021.


    Wimboh bilang potensi ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia sangat besar karena memiliki jumlah penduduk muslim terbesar dunia. Sayangnya potensi-potensi tersebut belum terserap maksimal lantaran belum kuatnya perbankan syariah, sedangkan masyarakatnya juga masih gagap keuangan syariah.

    Hal ini tercermin dari tingkat inklusi keuangan syariah yang baru sebesar 9,1 persen, jauh ketimbang tingkat inklusi keuangan konvensional yang sudah sebesar 76,19 persen. Angka-angka ini pun terus berkembang, sehingga percepatan perkembangan ekonomi dan keuangan syariah tertinggal dari konvensional.

    Di samping itu, Wimboh mencatat pangsa pasar atau market share keuangan syariah terhadap sistem keuangan di Indonesia hingga saat ini baru mencapai 9,9 persen. Angka ini masih jauh dari cita-cita terhadap peningkatan market share industri keuangan syariah Indonesia yang sebesar 20 persen.

    Wimboh mengakui sulitnya merealisasikan cita-cita tersebut. Terkait hal ini ia baru menyadari bahwa pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia harus terintegrasi dengan ekosistem yang saling berkaitan satu sama lain.

    "Karena itu pengalaman beberapa puluh tahun sejak pengembangannya di 2000-an ternyata sulit untuk menembus cita-cita 20 persen market share syariah. Ini karena ekosistemnya belum terbangun dengan baik, masyarakatnya adalah masyarakat yang didominasi oleh orang-orang yang membutuhkan produk syariah," pungkas Wimboh.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id