Pemulihan Ekonomi Belum Mampu Angkat Rupiah

    Husen Miftahudin - 03 Desember 2020 17:33 WIB
    Pemulihan Ekonomi Belum Mampu Angkat Rupiah
    Ilustrasi. Foto: Dok.MI
    Jakarta: Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai sinyal pemulihan ekonomi nasional pada kuartal IV-2020 belum mampu mengangkat nilai tukar rupiah dari tren pelemahan. Mata uang Garuda tersebut masih berada di zona merah.

    Menurut Ibrahim, masa kritis dampak pandemi covid-19 sudah berhasil dilalui sehingga membuat perekonomian nasional berangsur membaik. Kondisi ini secara perlahan membuat perekonomian domestik semakin stabil dan membaik.

    "Ini berkat sinergi semua pihak dalam memabangun optimisme pemulihan ekonomi lebih baik lagi ke depan menuju Indonesia memasuki masa new normal," ungkap Ibrahim dalam keterangannya yang diterima Medcom.id, Kamis, 4 Desember 2020.

    Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa membaiknya ekonomi di kuartal IV-2020 akan berdampak terhadap perekonomian di 2021. Di tahun depan itu, pemerintah memproyeksi pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 4,8 persen hingga 5,8 persen. Sementara para ekonom memandang pertumbuhan ekonomi di 2021 di kisaran 3,0 persen sampai 3,5 persen karena memasuki masa pemulihan.

    "Walaupun ada perbedaan pandangan tentang angka, namun intinya cuma satu, yaitu sinyal pemulihan ekonomi sudah mulai terlihat sejak kuartal ketiga 2020 dan terus membaik hingga akan menembus kemungkinan angka positif pada kuartal keempat 2020," urainya.

    Optimisme pertumbuhan ekonomi tak terlepas dari rasa optimistisme terhadap perkembangan ekonomi secara global pada 2021 yang akan tumbuh positif hingga lima persen, setelah terkontraksi 3,8 persen pada tahun ini.

    Ibrahim bilang, sinyal pemulihan ini terlihat dari perbaikan ekonomi di banyak negara, termasuk Tiongkok dan Amerika Serikat (AS), didukung stimulus fiskal dan moneter serta mulai meningkatnya mobilitas manusia dan aktivitas perekonomian akibat ditemukannya vaksin covid-19.

    Di samping itu, Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas), obligasi, dan Surat Utang Negara (SUN) di perdagangan Domestic Non Delivery Forward (DNDF) agar terus terjaga, stabil, dan cenderung menguat.

    "Hal ini didukung kebijakan stabilisasi Bank Indonesia dan masuknya aliran modal asing. Rupiah secara fundamental masih undervalue di bawah Rp15 ribu dan berpotensi sampai akhir tahun masih akan menguat," tegas Ibrahim.

    Pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap USD melemah tipis. Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup melemah dibandingkan penutupan hari sebelumnya, yakni berada di posisi Rp14.140 per USD.

    Mata uang Garuda tersebut melemah tipis 15 poin atau setara 0,11 persen. Rentang gerak harian rupiah berada di level Rp14.120 per USD sampai Rp14.160 per USD.

    Menukil data Yahoo Finance, rupiah juga berada di jalur merah pada posisi Rp14.170 per USD. Rupiah melemah 10 poin atau setara 0,07 persen dari Rp14.160 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

    Sedangkan berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.177 per USD atau melemah sebanyak 13 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.164 per USD.

    "Untuk perdagangan besok pagi, mata uang rupiah kemungkinan dibuka melemah sebesar 5-70 poin di level Rp14.110 per USD hingga Rp14.180 per USD," pungkas Ibrahim.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id