OJK Tak Khawatir Tingkat Kredit Macet Meningkat

    Husen Miftahudin - 28 September 2020 12:31 WIB
    OJK Tak Khawatir Tingkat Kredit Macet Meningkat
    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin
    Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tak khawatir tingkat kredit macet atau non performing loan (NPL) mengalami peningkatan. Per Juli 2020, NPL gross sebesar 3,22 persen atau naik signifikan bila dibandingkan dengan posisi Juli 2019 yang hanya sebesar 2,55 persen.

    Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan rasio NPL tersebut masih di bawah ambang batas yang ditentukan. Dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 17/11/PBI/2015, rasio NPL total kredit bank secara bruto (gross) yang ditetapkan harus kurang dari lima persen.

    "NPL memang naik sedikit setiap bulan. Namun demikian tidak apa-apa karena ini masih jauh di bawah lima (persen), itu (sekarang) hanya 3,22 persen," ujar Wimboh dalam webinar yang dikutip Senin, 28 September 2020.

    Menurutnya, kenaikan tingkat kredit macet ini disebabkan oleh dampak pandemi covid-19 yang kian meluas. Alhasil banyak nasabah pelaku usaha yang mengalami gangguan dalam operasinya hingga menunggak pokok utang dan bunga.

    Terkait hal ini Wimboh meminta nasabah terdampak pandemi memanfaatkan kebijakan restrukturisasi kredit. Kebijakan ini memberi kelonggaran kepada para nasabah yang kreditnya bermasalah, sehingga pinjaman tersebut bisa dikategorikan langsung lancar.

    "Indikasinya, yang jelas NPL ini nanti pada saat sudah bangkit usahanya dengan berbagai stimulus yang dilakukan dan kasus covid-19 ini bisa kita tekan, otomatis ini tidak menjadi permasalahan yang berat bagi industri perbankan dan keuangan kita," tegasnya.

    Di sisi lain Wimboh memastikan bahwa permodalan industri perbankan saat ini masih kuat. Tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang pada Juli 2020 sebesar 21,16 persen, naik bila dibandingkan dengan posisi Juni 2020 sebesar 22,59 persen.

    Dia bilang, tingkat permodalan industri perbankan nasional didesain memiliki daya tahan dalam kondisi apapun, baik kondisi normal maupun krisis. Hal ini ditujukan untuk mampu menjadi penyangga bagi perekonomian dalam negeri.

    "Bahkan kalau dibandingkan dengan negara lain di ASEAN, (tingkat permodalan) kita paling kuat. (CAR) kita sekarang di kisaran 23 persen. Jadi itu (kenaikan tingkat NPL) tidak masalah karena kita punya buffer (penyangga) permodalan yang kuat," tegasnya.

    Pun demikian likuiditas industri perbankan yang masih longgar dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 85,11 persen per Agustus 2020. Hal ini didorong oleh upaya Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yang memberikan stimulus kepada sektor keuangan dengan jumlah yang cukup besar.

    "Jadi likuiditas enggak masalah, indikatornya ditunjukkan bahwa LDR kita angkanya itu sudah 85,11 persen, jauh di atas 90 persen. Artinya, tingkat loan (pinjaman) dibandingkan depositnya itu masih jauh lebih besar deposit para nasabah," tutup Wimboh.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id