Imbal Hasil Obligasi AS Naik, Negara Berkembang Was-was

    Fetry Wuryasti - 27 Februari 2021 16:00 WIB
    Imbal Hasil Obligasi AS Naik, Negara Berkembang Was-was
    Ilustrasi kenaikan imbal hasil obligasi AS - - Foto: dok AFP



    Jakarta: Kenaikan imbal hasil obligasi AS atau US Treasury mengalami kenaikan secara mendadak, sebesar 1,61 persen. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam 1 tahun.

    Associate Director of Research and Investment Maximilianus Nico Demus mengatakan US Treasury 5 tahun juga naik sehingga membuat negara berkembang khawatir dengan anjloknya mata uang mereka. Imbal hasil US Treasury yang mengalami kenaikan memang akan menghapuskan keraguan terhadap inflasi.






    "Level ini cukup tinggi, karena kalau kita melihat mundur ke belakang, sempat mengalami peningkatan pada Maret, tapi berangsur-angsur mengalami penurunan," katanya dikutip dari Mediaindonesia.com, Sabtu, 27 Februari 2021.

    Menurutnya bank sentral berusaha untuk menenangkan pasar dengan mengatakan jumlah pembelian obligasi tetap sama sehingga tidak memberikan implikasi terhadap imbal hasil obligasi. Namun, pelaku pasar dan investor ingin The Fed harus mengintervensi agar imbal hasil tetap rendah.

    "Bila tingkat suku bunga riil naik lebih tinggi, tentu hal ini memberikan gambaran bahwa pertumbuhan perekonomian telah menjadi kenyataan, sehingga tentu saja pelaku pasar dan investor menjadi gelisah karena dikhawatirkan para pemangku kepentingan akan menghentikan stimulus lanjutan karena cost of fund pinjaman mengalami kenaikan," terang Nico.

    The Fed mengatakan bahwa mereka akan menjaga tingkat suku bunga untuk tetap rendah dan tetap melakukan pembelian obligasi. Meskipun demikian, para pelaku pasar dan investor terus melakukan penjualan di pasar obligasi yang mendorong imbal hasil mengalami kenaikan.

    Kenaikan imbal hasil obligasi juga disebabkan pelaku pasar dan investor menghargai adanya ekspektasi kenaikan tingkat suku bunga karena perekonomian akan pulih lebih cepat.


    Distribusi vaksin dan prospek stimulus tambahan membuat pelaku pasar dan investor yakin bahwa pemulihan ekonomi bukanlah hal yang halu. Karena itulah US Treasury dua tahun dan lima tahun meningkat. Obligasi jangka pendek lebih mencerminkan tentang pertumbuhan ekonomi jangka pendek dan ekspektasi.

    "Tapi data ketenagakerjaan dan inflasi masih berada di rentang bawah yang belum menggambarkan perekonomian dapat pulih tahun ini. Bahkan masih jauh dari kata pulih," tambahnya.

    Lebih lanjut, mata uang di pasar berkembang berpotensi menjadi turun lebih dalam, karena kekuatan dollar AS yang semakin perkasa. Sejauh ini kenaikan US Treasury juga dikhawatirkan oleh beberapa negara lain, tidak terkecuali Indonesia.

    Kenaikkan imbal hasil obligasi Indonesia yang kian masif sebagai bagian dari spread premium terhadap US Treasury juga memberikan tekanan terhadap pasar obligasi yang mendorong obligasi mengalami kenaikan.

    Sebagai informasi, obligasi Indonesia 10 tahun sudah naik dari 6,05 persen menjadi 6,5 persen. Sayangnya kenaikan itu belum terbukti membuat perekonomian RI akan menjadi lebih baik. Di emerging market, pasar saham dan obligasi terkadang tidak selalu berkorelasi positif. Hal ini berbeda dengan negara maju, meskipun pengukuran harus tetap dilakukan terkait seberapa besar korelasinya.


    "Dengan mata uang Indonesia terhadap dolar AS yang masih dalam rentang positif, kami yakin Indonesia akan jauh lebih kuat sebagai negara emerging market," jelas Nico.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id