Rupiah dalam Sepekan, Melemah

    Angga Bratadharma - 01 Agustus 2020 11:08 WIB
    Rupiah dalam Sepekan, Melemah
    Foto: dok MI/Panca Syurkani.
    Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sepanjang pekan ini melemah di tengah melonjaknya kasus infeksi covid-19 di seluruh dunia. Meski demikian sejumlah upaya yang terus dilakukan Pemerintah Indonesia mampu membuat otot mata uang Garuda kokoh sehingga bisa menekan pelemahan lebih lanjut.

    Mengutip data Bloomberg, Sabtu, 1 Agustus 2020, nilai tukar rupiah pada awal pekan atau tepatnya Senin, 27 Juli, berada di level Rp14.535 per USD. Lalu pada Selasa, 28 Juli, mata uang Garuda bergerak stabil di posisi Rp14.535 per USD. Sedangkan pada Rabu, 29 Juli, nilai tukar rupiah terpental ke level Rp14.543 per USD.

    Kemudian pada Kamis, 30 Juli, nilai tukar rupiah harus rela kembali melemah ke posisi Rp14.600 per USD. Rupiah tidak bisa berkutik melawan mata uang Paman Sam meski tengah tertekan akibat dipertahankannya suku bunga acuan oleh Federal Reserve. Sedangkan pada Jumat, 31 Juli, perdagangan diliburkan memperingati Hari Raya Iduladha 1441 H.

    Kurs dolar Amerika Serikat menguat pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), mencoba pulih dari kerugian besar baru-baru ini di tengah ketidakpastian virus korona. Sejauh ini, Pemerintah AS terus berupaya menekan penyebaran virus mematikan itu yang ujungnya menghantam perekonomian.

    Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,38 persen pada 93,3749. Pada akhir perdagangan New York, euro jatuh menjadi USD1,1782 dari USD1,1837 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris naik menjadi USD1,3101 dari USD1,3085 pada sesi sebelumnya.

    Dolar Australia turun ke USD0,7145 dibandingkan dengan USD0,7175. Dolar AS membeli 105,77 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 104,82 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik hingga 0,9138 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9096 franc Swiss, dan jatuh ke 1,3384 dolar Kanada dari 1,3443 dolar Kanada. Untuk minggu ini, indeks dolar AS turun 1,14 persen.

    Mata uang AS berada di bawah tekanan karena melonjaknya jumlah infeksi virus korona di AS, ditambah dengan serangkaian data ekonomi yang suram menyebabkan keraguan tentang pemulihan cepat ekonomi AS, catat para pakar.

    Sampai Jumat sore, lebih dari 4,5 juta kasus covid-19 yang telah dikonfirmasi telah dilaporkan di Amerika Serikat, dengan hampir 153 ribu kematian, menurut penghitungan Universitas Johns Hopkins.

    Di sisi lain, ekonomi Amerika Serikat terkontraksi cukup tajam yakni minus 32,9 persen di kuartal II-2020. Pelemahan yang sangat dalam itu menunjukkan parahnya hantaman virus korona yang memicu resesi ekonomi Paman Sam, terlebih kasus infeksinya terus meningkat hingga sekarang ini.

    "Ekonomi AS mengalami kontraksi di tingkat tahunan sebesar 32,9 persen pada kuartal kedua," ungkap Departemen Perdagangan AS.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id