BI Pastikan Ketahanan Perbankan Kuat Meski Diganggu Covid-19

    Husen Miftahudin - 31 Maret 2020 20:59 WIB
    BI Pastikan Ketahanan Perbankan Kuat Meski Diganggu Covid-19
    BI pastikan ketahanan perbankan kuat meski diganggu covid-19
    Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan kondisi industri perbankan masih kuat meski digoyang gejolak ekonomi imbas merebaknya pandemi virus korona (covid-19). Kondisi perbankan nasional saat ini bahkan lebih kuat dibandingkan dengan kondisi bank pada masa krisis moneter 1998 dan resesi global 2008.

    "Saya harus sampaikan bahwa kondisi perbankan Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan  2008 apalagi 1997-1998," ujar Perry dalam telekonferensi dari kantor pusat Bank Indonesia, Jakarta, Selasa, 31 Maret 2020.

    Perry menjelaskan, indikator kuatnya ketahanan industri perbankan domestik tercermin dari rasio kecukupan modal atau atau capital adequacy ratio (CAR) yang masih berada sekitar 23 persen dan non performing loan (NPL) di kisaran 2,5 persen secara gross atau 1,3 persen netto.

    Namun demikian Perry mengakui adanya risiko kenaikan kredit macet imbas covid-19. Sebab kinerja sejumlah perusahaan dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) melorot lantaran adanya imbauan social distancing dan work from home sebagai langkah mitigasi pemerintah dalam menekan laju penyebaran virus yang menyerang sistem pernapasan tersebut.

    "Memang kalau kondisi perusahaan, UMKM, kemudian debitur kecil mengalami gangguan karena covid-19 yang mereka enggak bisa bekerja. Itu yang kemudian menjadi perhatian bagaimana mengurangi beban kepada mereka," ungkap dia.

    Oleh karena itu pemerintah telah menyiapkan stimulus fiskal. Salah satunya dengan menggelontorkan bantuan sosial (bansos) dan anggaran untuk mengatasi permasalahan kesehatan.

    "Untuk bagaimana mengatasi masalah kesehatan untuk bayar dokter, untuk rumah sakit, untuk obat-obatan, dan berbagai hal dari covid-19. Kemudian memastikan bahwa masyarakat bebannya itu dibantu pemerintah melalui bansos atau disebut jaring pengaman sosial dengan menambah PKH, nontunai, dan mengeluarkan kartu prakerja," urai dia.

    Selain itu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan stimulus berupa relaksasi pembayaran kredit bagi debitur UMKM yang terdampak covid-19. Dengan adanya stimulus-stimulus ini diharapkan pelemahan ekonomi tidak terlalu berdampak besar ke kesehatan perbankan.

    "Tentu saja kepada UMKM. Inilah yang kemudian dilihat kembali dengan melihat kondisi global yang menurun tadi dampaknya kepada Indonesia sehingga kita memberikan stimulus fiksal yang besar dan bagaimana mengurangi beban dari para UMKM sehingga dampaknya kepada perbankan bisa dimitigasi."

    Bank sentral juga telah menjalankan kebijakan makroprudensial dengan menurunkan suku bunga acuan menjadi di level 4,5 persen. Memastikan likuiditas cukup, relaksasi ketentuan makroprudensial, serta kebijakan lain untuk kesehatan perbankan di tengah pandemi covid-19.

    "Kami relaksasi pasar uang dan pasar valas (valas asing), serta berbagai hal terus dilakukan. Tentunya hal ini berkoordinasi dengan pemerintah melalui Kemenkeu, OJK, industri perbankan, dan yang lain," tutup Perry.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id