Pelemahan Rupiah Berbeda dengan Krisis 1998 dan 2008

    Nur Azizah - 20 Maret 2020 16:53 WIB
    Pelemahan Rupiah Berbeda dengan Krisis 1998 dan 2008
    Ilustrasi. Foto: AFP.
    Jakarta: Intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum membuahkan hasil.

    Namun demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan angka psikologis rupiah yang terjadi saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998 dan 2008.

    "Sekarang yang terjadi adalah kepanikan, seluruh pasar keuangan global," kata Perry dalam telekonferensi di Jakarta, Jumat, 20 Maret 2020.

    Menurut Perry, kepanikan ini dipicu oleh merebaknya virus covid-19 di seluruh dunia. Ini yang menyebabkan pemilik modal melepas seluruh asetnya.

    "Dalam kondisi ini investor dan pelaku pasar global melepas semua asetnya yang mereka miliki apakah saham, apakah obligasi, emas, dan mereka menjual dalam dolar," ungkap dia.

    Alhasil, mata uang Paman Sam tersebut menguat. Ini yang menyebabkan nilai rupiah melemah hingga Rp16.550 per Jumat pagi, 20 Maret 2020.

    "Dalam konteks itu Indonesia juga terkendala. Kita tidak sendiri, seluruh negara mengalami hal sama," imbuh dia.

    BI tengah berupa meningkatkan nilai tukar rupiah. Caranya, dengan menyediakan suplai dari dolar dan mengintervensi secara tunai dan spot maupun forward melalui transaksi derivatif standar (DNDF).

    "Ini untuk menjaga mekanisme pasar dan agar tidak terjadi kepanikan dan memberikan confidence di pasar," pungkas dia.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id