comscore

Waduh, Rupiah Tergelincir di Pembukaan Awal Pekan

Husen Miftahudin - 13 Juni 2022 09:43 WIB
Waduh, Rupiah Tergelincir di Pembukaan Awal Pekan
Ilustrasi. Foto: dok MI/Pius Erlangga.
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan ini melemah cukup dalam. Pelemahan mata uang Garuda tersebut imbas langkah dan kebijakan yang diambil bank sentral negara maju di dunia untuk mengerek suku bunga acuan demi meredam inflasi.
 
Mengutip data Bloomberg, Senin, 13 Juni 2022, rupiah tergelincir sebanyak 105 poin atau setara 0,72 persen ke posisi Rp14.658 per USD dari Rp14.553 per USD pada perdagangan hari sebelumnya.

Rupiah berada pada rentang Rp14.638 per USD sampai Rp14.665 per USD dengan year to date (ytd) return 2,77 persen. Sedangkan menukil data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp14.565 per USD.
Sementara itu, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah sebanyak 97 poin atau 0,66 persen ke posisi Rp14.650 per USD dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.553 per USD.

Analis pasar uang Ibrahim Assuabi menyampaikan pada perdagangan rupiah di awal pekan ini dibuka fluktuatif. Namun begitu, ia tak memungkiri jika gerak mata uang Garuda tersebut lebih condong ke zona merah hingga penutupan perdagangan.

"Untuk perdagangan Senin, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.540 per USD hingga Rp14.600 per USD," jelas Ibrahim.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah utamanya dipengaruhi oleh data inflasi yang akan memandu jalur pengetatan kebijakan Federal Reserve, juga Bank Sentral Eropa yang akan memulai kampanye kenaikan suku bunga bulan depan.

Adapun pertumbuhan harga konsumen inti di AS diperkirakan akan mendingin sebagian kecil. Hasil seperti itu akan memberikan kepastian bagi mereka yang berharap inflasi tinggi selama beberapa dekade telah mencapai puncaknya pada Maret dan bahwa kemunduran April bukanlah satu kali saja.

Menurutnya, hal ini dapat memberi The Fed ruang gerak untuk menaikkan suku bunga secara kurang agresif di akhir tahun karena mencoba mengendalikan inflasi tanpa membawa ekonomi ke dalam resesi.

"Dalam waktu dekat, pasar memperkirakan The Fed minggu depan akan mengumumkan kenaikan suku bunga 50 basis poin kedua dari tiga kali berturut-turut, yang telah mendorong dolar dalam beberapa bulan terakhir," pungkas Ibrahim.

(HUS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id