Bank Syariah BUMN Perlu Dimerger Biar Selevel BUKU IV

    Husen Miftahudin - 21 September 2020 12:35 WIB
    Bank Syariah BUMN Perlu Dimerger Biar Selevel BUKU IV
    Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Foto : MI.
    Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung langkah Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menggabungkan (merger) bank syariah pelat merah. Upaya ini perlu dilakukan demi penguatan kapasitas industri keuangan syariah nasional.

    "Kami menyambut baik rencana yang dilakukan oleh Kementerian BUMN untuk membentuk satu sinergisitas bank syariah yang lebih besar lagi, dan tentunya akan bisa menjadi bank syariah yang levelnya sama dengan BUKU (Bank Umum Kegiatan Usaha) IV," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam diskusi virtual Forum Riset Ekonomi & Keuangan Syariah (FREKS) 2020, Senin, 21 September 2020.

    BUKU IV merupakan kategori bank yang memiliki modal inti lebih dari Rp30 triliun. Bila bank syariah BUMN masuk ke kategori ini, maka bank tersebut akan selevel dengan bank-bank besar seperti Bank Mandiri, BCA, BNI, hingga BRI.

    Wimboh mengungkapkan hingga saat ini jumlah industri dan variasi produk keuangan syariah sudah banyak. Di sektor perbankan syariah, ada 14 bank umum syariah (BUS), 20 unit usaha syariah (UUS), dan 162 bank perkreditan rakyat syariah (BPRS) dengan total aset per Juli 2020 mencapai Rp542,83 triliun.

    Di sektor pasar modal syariah terdapat 467 saham syariah, 149 sukuk (obligasi syariah) korporasi, 282 reksadana syariah, serta 64 sukuk negara dengan total aset mencapai Rp985,96 triliun. Sementara di sektor Industri Keuangan Non Bank (IKNB) syariah ada sebanyak 214 lembaga jasa keuangan dengan total aset sebesar Rp110,29 triliun.
     
     


    Bila dirinci, lembaga jasa keuangan yang terdapat di dalam sektor IKNB syariah di antaranya ada 64 asuransi syariah, 43 pembiayaan syariah, 7 penjaminan syariah, 11 fintech syariah, 76 lembaga keuangan mikro syariah, serta 13 industri non bank syariah lainnya.

    "Meskipun jumlah industri dan variasi produk keuangan syariah banyak, tapi kita sampai saat ini belum memiliki lembaga keuangan syariah yang besar yang bisa head to head dan berkompetisi dengan lembaga keuangan konvensional yang sudah lahir duluan dan cukup besar dan kuat skalanya," tutur dia.

    Wimboh menegaskan perlu pembentukan lembaga keuangan syariah yang sepadan dan mampu berkompetisi dengan lembaga keuangan konvensional besar. Sehingga lembaga keuangan syariah tersebut punya daya saing dan kapasitas yang besar untuk berperan dalam agenda pembangunan nasional.

    Ia menekankan agar lembaga keuangan syariah tidak hanya memikirkan untuk bertahan hidup. Mereka juga perlu memikirkan untuk meningkatkan daya saing produk dan layanan keuangannya.

    "Jangan sampai lembaga keuangan syariah hanya memikirkan bertahan hidup, tapi kita harus besar dan bisa bersaing, itu yang lebih penting. Untuk itu kami harus berupaya meningkatkan skala ekonomi industri keuangan syariah melalui peningkatan nominal modal minimum maupun akselerasi konsolidasi," tutup Wimboh.

    Sebelumnya wacana penggabungan bank syariah pelat merah dilontarkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Rencana merger anak usaha bank BUMN tersebut akan dimulai pada Februari 2021 untuk menghadirkan sumber pendanaan baru serta aset yang lebih besar.

    Saat ini ada tiga bank umum syariah yang merupakan anak usaha BUMN. Ketiga bank itu adalah PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS), PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri. Total aset ketiga bank syariah tersebut mencapai Rp207 triliun.

    (SAW)
    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id