Stimulus Dunia Usaha dan Perbankan di Tengah Covid-19

    Eko Nordiansyah - 15 Mei 2020 19:16 WIB
    Stimulus Dunia Usaha dan Perbankan di Tengah Covid-19
    Ilustrasi - - Foto: Medcom
    Jakarta: Kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinilai mampu mendukung dunia usaha sekaligus sektor keuangan di tengah pandemi virus korona. Kebijakan tersebut terkait restrukturisasi kredit nasabah yang terdampak covid-19.

    “Keduanya membantu terjaganya likuiditas, baik di sektor keuangan maupun para debitur. Sehingga stabilitas sistem keuangan Indonesia secara keseluruhan juga terjaga,” kata Ekonom PT Bank Danamon Tbk Wisnu Wardhana di Jakarta, Jumat, 15 Mei 2020.

    Wisnu menegaskan kebijakan yang relatif baru itu sudah memberikan dampak positif pada sektor keuangan meski persentase debitur yang memanfaatkan keringanan itu baru sekitar lima persen. Namun, hal ini memberi kepastian bagi para pelaku usaha maupun lembaga jasa keuangan.

    "Namun perlu diingat bahwa umur dari aturan relaksasi ini masih relatif baru. Kalau dilihat dalam waktu singkat sudah dapat lima persen, saya pikir efektif. Terlebih dari itu, relaksasi aturan-aturan tersebut memberikan ketenangan kepada pasar, terutama dari kekhawatiran risiko likuiditas," ungkapnya.

    Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah mengatakan kebijakan OJK dapat saling melengkapi dengan kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Kebijakan ini mampu mendorong dunia usaha dan memperkuat industri keuangan selama menghadapi wabah covid-19.

    "Selama terjadinya wabah covid-19, dunia usaha dan lembaga keuangan, utamanya perbankan, mengalami tekanan likuiditas. Dengan melakukan relaksasi restrukturisasi kredit ini, dunia usaha terbantu yang pada akhirnya juga memperkuat perbankan," ujar dia.

    Kebijakan restrukturisasi kredit membuat perbankan tak perlu menambah cadangan kerugian kredit macet. Meski demikian, restrukturisasi kredit saja tak cukup untuk sebagian pelaku usaha sehingga diperlukan kebijakan lain dari pemerintah maupun bank sentral yang bisa memperkuat dunia usaha.

    “Memang untuk beberapa perusahaan yang kesulitan likuiditasnya begitu besar, restrukturisasi kredit saja tidak cukup, perlu bantuan lainnya. Tapi arah kebijakannya sudah benar,” pungkasnya.

    OJK telah menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 di Industri Perbankan serta POJK Nomor 14/POJK.05/2020 tentang Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 bagi Lembaga Jasa Keuangan Nonbank.

    Ada empat kebijakan pokok yang telah digelontorkan OJK, yaitu, meredam volatilitas di pasar keuangan dalam menjaga kepercayaan investor dan stabilisasi pasar, memberi napas bagi sektor riil dan informal untuk dapat bertahan di masa pandemi melalui relaksasi restrukturisasi kredit/pembiayaan.

    OJK juga memberikan relaksasi bagi industri jasa keuangan agar tidak perlu membentuk tambahan cadangan kerugian kredit macet akibat covid-19, memberikan ruang likuiditas yang memadai untuk menopang kebutuhan likuiditas perbankan. Terakhir, OJK melakukan resolusi pengawasan industri jasa keuangan yang lebih efektif dan cepat melalui Cease and Desist Order dan Supervisory Actions/Resolutions lainnya.




    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id