Bank Syariah Indonesia Bakal Gencar di Pembiayaan Sindikasi

    Annisa ayu artanti - 23 Februari 2021 10:38 WIB
    Bank Syariah Indonesia Bakal Gencar di Pembiayaan Sindikasi
    Ilustrasi. Foto: MI/Atet
    Jakarta: Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi mengatakan pembiayaan sindikasi merupakan salah satu strategi Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam meningkatkan pembiayaan wholesale.

    Selain proyek infrastruktur, pada tahun ini BSI akan aktif menyalurkan sindikasi ke sektor energi, yang mana salah satu proyek yang dibiayai adalah proyek kerja sama pemerintah dengan badan usaha.
     
    Sampai Desember 2020, pembiayaan wholesale BSI tercatat sebesar Rp48,03 triliun.

    "Pada akhir 2021, Bank Syariah Indonesia menargetkan pertumbuhan pembiayaan wholesale sebesar 4-6 persen secara tahunan atau year on year (yoy)," ujar Hery melalui keterangan tertulis, Selasa, 23 Februari 2021.

    Sebagai debut pertama, BSI memimpin pembiayaan sindikasi pembangunan infrastruktur Preservasi Jalan Lintas Timur Sumatera (Jalintim) di Provinsi Sumatera Selatan senilai Rp644,76 miliar.

    Pembiayaan sindikasi di Jalintim ini dikucurkan BSI bersama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur dan Bank Panin Dubai Syariah kepada PT Jalintim Adhi Abipraya dengan tenor 10 tahun.

    Dari total plafon pembiayaan sindikasi tersebut, porsi BSI sebesar Rp248 miliar. Sedangkan porsi pembiayaan PT Sarana Multi Infrastruktur, dan Bank Panin Dubai Syariah masing-masing sebesar Rp248 miliar dan Rp148,76 miliar.

    Dalam pembiayaan sindikasi, BSI berperan sebagai Mandated Lead Arranger, Agen Fasilitas, Agen Jaminan, dan Agen Escrow.

    Hery Gunardi mengatakan BSI siap mengemban amanah dan selalu berkomitmen mendukung pengembangan infrastruktur Tanah Air.

    "Alhamdulillah Bank Syariah Indonesia menjadi bagian dalam sejarah pemberian fasilitas Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU). Fasilitas ini merupakan yang pertama kalinya menggunakan transaksi syariah," jelas Hery.

    Ia menjelaskan, pada sindikasi ini akad yang digunakan adalah Ijarah Muntahiyah bitTamlik, yaitu transaksi sewa manfaat atas suatu objek dengan pengalihan kepemilikan di akhir periode sewa.

    Preservasi Jalintim Sumsel ini merupakan kerjasama pemerintah dengan badan usaha pertama di sektor jalan non-tol di Indonesia. Dalam proyek ini PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia berperan sebagai lembaga penjamin.

    "Kami berharap kerja sama ini dapat memberikan manfaat yang positif dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat. Pasalnya, proyek ini dapat mempersingkat waktu tempuh kendaraan, sehingga berdampak kepada penurunan harga barang, peningkatan pendapatan masyarakat, serta berkurangnya polusi udara," imbuhnya.

    Adapun ruas jalan yang dipreservasi dalam proyek ini meliputi Jalan Srijaya Raya (6,3 km), Jalan Mayjen Yusuf Singadekane (5,2 km), Jalan Letjen H. alamsyah Ratu Perwiranegara (3,15 km), Jalan Soekarno - Hatta (8,32 km), Jalan Akses Terminal Alang-alang Lebar (4 km) dan Jalan Sultan mahmud Badarudin II (2,9 km). Ruas Jalintim ini juga kan dilengkapi dua buah Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id