Gerak Rupiah Masih Tertinggal dari Ringgit Malaysia dan Baht Thailand

    Husen Miftahudin - 21 Juli 2021 18:41 WIB
    Gerak Rupiah Masih Tertinggal dari Ringgit Malaysia dan Baht Thailand
    Ilustrasi mata uang rupiah - - Foto: dok Shutterstock



    Jakarta: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyatakan apresiasi kinerja nilai tukar rupiah masih tertinggal dibandingkan ringgit Malaysia dan baht Thailand.

    "Negara tetangga kita, seperti ringgit Malaysia dan baht Thailand, berhasil melampaui kinerja rupiah. Mereka mencatat apresiasi yang lebih tinggi dari tahun ke tahun," ungkap Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam Analisis Makroekonomi Edisi Juli 2021, Rabu, 21 Juli 2021.

     



    Namun demikian, apresiasi kinerja rupiah masih lebih baik dibandingkan real Brasil dan rupee India. Kinerja rupiah relatif lebih baik dan mencatatkan apresiasi sebesar 1,25 persen (ytd) terhadap USD.

    Riefky menjelaskan setelah the Fed mengisyaratkan akan melakukan dua kali kenaikan suku bunga acuan di 2023 dalam rapat FOMC pada 15-16 Juni, rupiah mengalami depresiasi terhadap USD, berkisar antara Rp14.220 per USD dan USD14.530 per USD. Hal tersebut karena investor memindahkan modalnya dari pasar negara berkembang.

    "Sejak saat itu, rupiah relatif stabil di sekitar Rp14.500 per USD, meskipun ada jumlah kasus covid-19 dan PPKM darurat di Jawa dan Bali. Rupiah dinilai cukup kuat karena beberapa faktor eksternal, termasuk sikap the Fed untuk kebijakan moneter yang akomodatif meskipun inflasi AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan," paparnya.

    Selain itu, untuk mendukung pemulihan ekonomi, People's Bank of China (PBOC) mengumumkan akan memangkas rasio cadangan wajib (RRR) sebesar 50 bps efektif mulai 15 Juli. Meskipun beberapa investor memindahkan aset mereka dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, investor lain mungkin menempatkan aset mereka dalam portofolio yang lebih berisiko.

    Kondisi itu dipicu oleh dua pengumuman ini, dan menghasilkan rupiah yang relatif stabil dan sedikit penurunan arus masuk modal bersih dari USD8,00 juta pada pertengahan Juni 2021 menjadi USD7,34 juta pada pertengahan Juli 2021.

    "Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah 1-tahun naik menjadi 3,9 persen pada pertengahan Juli dari 3,5 persen pada pertengahan Juni. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun tetap stabil di 6,4 persen antara Juni dan Juli 2021," tutur Riefky.

    Adapun angka cadangan devisa sedikit meningkat menjadi USD137,1 miliar pada Juni 2021 dari USD136,3 miliar pada bulan sebelumnya. Peningkatan cadangan devisa disebabkan oleh penerbitan Sukuk Global dan penerimaan pajak dan jasa.

    "Angka cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 9,2 bulan impor atau 8,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," tutup Riefky.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id