OJK: Perbankan Syariah RI Belum Punya Ciri Khas Bisnis

    Husen Miftahudin - 08 Oktober 2020 23:13 WIB
    OJK: Perbankan Syariah RI Belum Punya Ciri Khas Bisnis
    Ilustrasi perbankan syariah. Foto: Antara/Ismar Patrizki
    Jakarta: Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana mengakui perbankan syariah nasional saat ini masih memiliki berbagai macam tantangan yang harus segera diselesaikan. Salah satunya karena belum memiliki diferensiasi atau perbedaan dalam berbisnis.

    "Kami melihat perbankan syariah belum memiliki diferensiasi atau ciri khas dan keunikan dalam bisnis. Masih kurangnya optimalisasi kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan teknologi informasi, serta masih rendahnya tingkat literasi dan inklusi," ujar Heru dalam High Level Seminar on Waqf secara virtual di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2020.

    Heru akan mendorong perbankan syariah untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, sehingga diharapkan memiliki image baru sebagai perbankan syariah yang memiliki daya saing tinggi sekaligus berdampak bagi pembangunan ekonomi sosial.

    "Selain keunikan model bisnis, produk yang berdaya saing tinggi, SDM dan sistem teknologi informasi yang mutakhir, tentunya juga integrasi inklusi keuangan, komersial dan sosial juga diperlukan untuk menjadikan perbankan syariah kita memiliki keunikan bagi integritas industri perbankan nasional kita," tegas Heru.

    Adapun pengembangan industri perbankan syariah nasional ke depannya akan berfokus pada penguatan dari sisi permodalan, digitalisasi, keunikan produk, serta pengaturan pengawasan yang terintegrasi dengan ekosistem syariah. Selain itu, fokus penguatan perbankan syariah juga dilakukan dengan sinergi ekosistem ekonomi syariah.

    Menurutnya, webinar High Level Seminar on Waqf yang diselenggarakan sebagai bagian dari pekan wakaf dalam rangka Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) Virtual 2020 menjadi langkah konkret kolaborasi yang nyata dalam pengembangan dan penguatan perbankan syariah dalam ekosistem ekonomi syariah.

    Heru menjelaskan bahwa ekosistem syariah terdiri dari berbagai elemen penting yang mencakup sektor riil seperti industri halal, sektor keuangan syariah yang mencakup perbankan syariah, pasar modal syariah dan non bank syariah, hingga sektor dana sosial Islam yang mencakup zakat, infak, wakaf, serta sedekah.

    Industri ekonomi syariah yang menyeimbangkan dan tidak memisahkan sektor komersial dan sektor sosial akan menjadi landasan sinergi ekosistem ekonomi syariah. Untuk dapat mendorong sektor riil dengan optimal, sinergi tidak hanya terbatas pada lembaga keuangan syariah.

    "Tetapi lebih jauh, yaitu dengan industri halal, lembaga dana sosial syariah, dan kementerian lembaga. Sinergi dengan berbagai stakeholders harus dilakukan secara kolektif dengan kesadaran bersama akan resistensi ekonomi syariah," pungkas Heru.
     

    (DEV)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id