Kenaikan Cadangan Devisa Bikin Rupiah Melesat

    Husen Miftahudin - 07 Mei 2021 16:32 WIB
    Kenaikan Cadangan Devisa Bikin Rupiah Melesat
    llustrasi penambahan cadangan devisa - - Foto: dok AFP



    Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami penguatan imbas kenaikan cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa RI pada akhir April 2021 sebesar USD138,8 miliar, atau naik dibandingkan dengan posisi pada akhir Maret 2021 sebesar USD137,1 miliar.

    "Walaupun data yang dirilis belum sesuai dengan ekspektasi pasar yaitu USD139 miliar, namun ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Jumat, 7 Mei 2021.

     



    Bank sentral mengungkapkan bahwa peningkatan cadangan devisa terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. BI memastikan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,0 bulan impor atau 9,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

    Selain itu, posisi cadangan devisa ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

    "Cadangan devisa yang kuat mencerminkan bahwa Bank Indonesia punya 'amunisi' yang kuat untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Saat nilai tukar stabil, investor akan lebih merasa aman dan nyaman berinvestasi di Indonesia," jelasnya.

    Menguatnya mata uang Garuda juga ditopang oleh merosotnya dolar ke level terendah satu minggu dan patokan imbal hasil Treasury AS 10-tahun turun mendekati level terendah dua minggu. Tiongkok juga merilis data positif pada hari sebelumnya dengan Caixin Services PMI untuk April di 56,3 lebih baik dari perkiraan.

    "Data perdagangan April juga lebih baik dari yang diharapkan dengan ekspor tumbuh 32,3 persen (yoy), impor tumbuh 43,1 persen (yoy), dan neraca perdagangan pada USD42,86 miliar," urai dia.

    Di sisi lain, bank sentral Inggris (BOE) mempertahankan suku bunganya di level 0,10 persen saat mengeluarkan keputusan kebijakannya pada Kamis. Meskipun bank sentral juga memperlambat laju program pembelian obligasi, namun perlambatan itu diperkirakan secara luas dan bukan merupakan indikasi bahwa BOE akan membalikkan langkah-langkah stimulus.

    "Namun, ketidakpastian atas hasil pemilu Skotlandia dapat memicu kemerdekaan baru membuat perpolitikan di Inggris Raya kembali memanas," sebut Ibrahim.

    Di AS, sambungnya, jumlah klaim pengangguran awal tahun turun menjadi 498 ribu, terendah sejak pertengahan Maret 2020 ketika covid-19 dinyatakan sebagai pandemi. Investor sekarang menunggu laporan ketenagakerjaan April, termasuk non-farm payrolls.

    Dengan perkiraan yang kemungkinan akan menegaskan jalur solid AS menuju pemulihan, kekhawatiran inflasi yang tak terkendali juga meningkat. Namun, sebagian besar pejabat Federal Reserve AS, termasuk Ketua Jerome Powell, telah mempertahankan kebijakan moneter yang dovish sejauh ini dan diperkirakan akan terus melakukannya.


    "Investor sekarang menunggu laporan pekerjaan bulanan AS untuk bulan April, termasuk non-farm payrolls, yang akan jatuh tempo nanti. Di sisi bank sentral, Presiden Cleveland Federal Reserve Bank Loretta Mester mengatakan pada Kamis bahwa ekonomi AS sedang pulih tetapi lebih banyak perbaikan diperlukan sebelum Federal Reserve mulai memperlambat dukungan moneter," papar Ibrahim.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id