DBS Perkirakan BI Perpanjang Jeda Penurunan Suku Bunga Acuan

    Angga Bratadharma - 12 September 2020 12:29 WIB
    DBS Perkirakan BI Perpanjang Jeda Penurunan Suku Bunga Acuan
    Ilustrasi. FOTO: AFP
    Jakarta: Tingkat inflasi di Indonesia masih cenderung rendah dan kurs riil positif mengartikan masih ada ruang untuk menurunkan suku bunga acuan lebih lanjut. Meski demikian, ada beberapa faktor mengapa bank sentral Indonesia kemungkinan memperpanjang jeda penurunan suku bunga pada paruh kedua 2020.

    "Pertama, kinerja rupiah buruk selama beberapa minggu terakhir, yang diakibatkan oleh kekhawatiran dalam negeri yaitu monetisasi utang, pertumbuhan basis moneter, dan lain-lain, menyimpang dari kecenderungan positif di kawasan," sebut DBS Group Research dalam laporannya, Sabtu, 12 September 2020.

    Meskipun ada penurunan dalam kepemilikan pemodal asing di pasar obligasi hingga 30 persen dari jumlah obligasi beredar, lanjutnya, stabilitas nilai mata uang kemungkinan tetap menjadi barometer risiko penting untuk pihak berwenang. Dengan latar belakang itu, status quo dalam suku bunga kemungkinan menjadi pilihan dengan resistensi terendah.

    Kedua, meski ada jeda dalam penurunan suku bunga acuan, BI kemungkinan mempertahankan sikap akomodatif dan limpahan dana yang membantu menahan suku bunga jangka pendek. Selain sikap lunak, operasi likuiditas BI cenderung menjadi lebih berat untuk tenor tidak menguntungkan, menarik suku bunga ke batas bawah koridor kebijakan suku bunga.

    Dengan transmisi telah berlangsung lama terlepas dari langkah terkait kebijakan suku bunga acuan, tambahnya, BI mungkin enggan menggunakan seluruh amunisi kebijakan dalam jangka pendek, serta mempertahankan penyangga untuk keseimbangan eksternal seperti neraca pembayaran.

    "Membuat jeda dalam penurunan suku bunga acuan pada sisa tahun ini hal terbaik untuk dilakukan," kata DBS Group Research.

    DBS Group Research mengungkapkan ada dua hal yang bertentangan dengan ekspektasi yaitu jika pertumbuhan melemah secara tajam dibanding saat ini dan pelonggaran kebijakan baru atau aliran portofolio kembali masuk menjadi keniscayaan. Dengan demikian, bauran kebijakan akan lebih condong ke kebijakan fiskal.

    "Walaupun kami perkirakan penurunan suku bunga lebih lanjut kemungkinan tidak akan terjadi, respons kebijakan fiskal yang kuat membutuhkan sokongan dari Bank Indonesia. Hal ini yang akan terus dicermati oleh pasar secara seksama," pungkas DBS Group Research.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id