BI: Bank Ambil Spread Suku Bunga Tinggi Bikin Ekonomi Tidak Kondusif

    Husen Miftahudin - 22 Februari 2021 13:20 WIB
    BI: Bank Ambil <i>Spread</i> Suku Bunga Tinggi Bikin Ekonomi Tidak Kondusif
    BI. Foto : MI/Usman Iskandar.



    Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyayangkan tingginya selisih (spread) antara suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate dengan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) perbankan. Padahal bank sentral telah menurunkan suku bunga kebijakannya sebanyak 225 basis poin (bps) sejak Juni 2019.

    Asisten Gubernur, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung mengatakan spread antara SBDK dengan suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate dan deposito satu bulan masing-masing sebesar 6,36 persen dan 5,84 persen.




    "Bank-bank berupaya untuk mendapatkan spread yang lebih tinggi dalam situasi sekarang. Sebenarnya ini tidak kondusif bagi perekonomian," ketus Juda dalam taklimat media mengenai Kebijakan LTV dan Uang Muka KKB serta Transparansi Suku Bunga secara virtual, Senin, 22 Februari 2021.

    Juda menegaskan penurunan suku bunga acuan seharusnya diikuti dengan penurunan suku bunga kredit perbankan, sehingga dapat mengakselerasi pemulihan ekonomi secara lebih cepat. Namun yang terjadi sekarang ini ketika suku bunga acuan turun, suku bunga kredit perbankan justru tetap dan tidak mengalami perubahan.

    "Spread yang mengalami kenaikan ini menjadi salah satu faktor mengapa orang masih ragu-ragu untuk meminta kredit dari perbankan, karena suku bunganya masih cukup tinggi," paparnya.

    Menurut dia, tingginya spread antara suku bunga acuan dengan SBDK perbankan terjadi lantaran bank-bank ingin mendapatkan keuntungan yang lebih di saat sekarang ini. Oleh sebab itu Bank Indonesia meminta transparansi suku bunga dan mendorong bank-bank untuk lebih responsif di dalam merespons kebijakan BI.

    "Inilah yang sebenarnya kita tidak inginkan, bagi bank-bank kita menginginkan bahwa Bank Indonesia ketika menurunkan suku bunga seharusnya responsnya juga sama. Kita harapkan bank-bank ini juga merespons dengan cepat," ungkap Juda.

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo juga sebelumnya geram lambatnya penurunan suku bunga kredit perbankan. Dia bilang, penurunan suku bunga kredit masih cenderung terbatas, yaitu hanya sebesar 83 bps ke level 9,70 persen selama 2020.

    "Selama 2020, di tengah penurunan suku bunga kebijakan BI 7 Days Reverse Repo Rate dan deposito satu bulan, SBDK perbankan baru turun sebesar 75 bps menjadi 10,11 persen," tukasnya.

    Dari sisi kelompok bank, SBDK tertinggi tercatat pada bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar 10,79 persen, diikuti Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar 9,80 persen, Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) sebesar 9,67 persen, serta Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) 6,17 persen.

    Dari sisi jenis kredit, SBDK kredit mikro 13,75 persen, kredit konsumsi non-KPR (Kredit Pemilikan Rumah) 10,85 persen, kredit konsumsi KPR 9,70 persen, kredit ritel 9,68 persen, dan kredit korporasi tercatat sebesar 9,18 persen.

    "Bank Indonesia mengharapkan perbankan dapat mempercepat penurunan suku bunga kredit sebagai upaya bersama untuk mendorong kredit pembiayaan bagi dunia usaha dan pemulihan ekonomi nasional," pinta Perry.

    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id