Saat Covid-19 Jaga Imunitas, Karantina, dan Isolasi Diri

    Angga Bratadharma - 23 Mei 2020 11:42 WIB
    Saat Covid-19 Jaga Imunitas, Karantina, dan Isolasi Diri
    Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
    Jakarta: Pandemi covid-19 masih berlangsung dan masyarakat harus tetap waspada, bahkan perlu konsisten menjalankan protokol pencegahan penularan virus mematikan ini. Pencegahan yang dimaksud seperti menjaga jarak, rajin mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menggunakan masker double, dan membilas tangan dengan hand sanitizer saat di luar rumah.

    Tidak hanya itu, pencegahan lain yang perlu dilakukan masyarakat ialah segera mandi usai berpergian, dan membersihkan peralatan yang dibawa dan kendaraan yang digunakan. Sangat penting untuk mematuhi protokol ini jika masyarakat serius ingin memutuskan mata rantai penularan virus di Indonesia.  

    "Istilah di rumah saja saat ini sedang populer. Ini baik untuk disosialisasikan pada anggota keluarga. Jika kita tidak bepergian akan lebih kecil kemungkinan terkena risiko tertular (covid-19) dan tentunya tidak menambah jumlah korban yang positif terpapar," kata Section Head of Claim Sequis Yosef Fransiscus, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Sabtu, 23 Mei 2020.

    "Siapapun kita dapat menjadi pembawa virus atau tertular virus. Demi kebaikan bersama mari kita menjadi masyarakat yang responsif dan tertib karena virus ini mampu menular dengan cepat," tambahnya.

    Virus covid-19 menyerang saluran pernafasan dan melemahkan sistem imun. Untuk itu, masyarakat harus memastikan imunitas tetap terjaga. Apalagi, imunitas setiap orang berbeda kemampuannya, tergantung pada usia, riwayat hidup, dan gaya hidup. Adapun Imun dihasilkan oleh kelenjar thymus sebagai daya tahan tubuh alami yang bertugas melawan penyakit.  

    Lalu, bagaimana cara kerja sistem imun saat virus ini menyerang? Sebagaimana tubuh selama ini menghadapi serangan berbagai virus, yaitu pada saat tubuh terinfeksi akan mengeluarkan pertahanan kekebalan bawaan. Pada respons awal, jika tubuh kita kuat akan memungkinkan untuk mengendalikan infeksi dengan cepat.

    Pada kondisi ini, terjadi pelepasan protein interferon untuk mengganggu kemampuan virus agar tidak bereplikasi dalam sel-sel tubuh. Interferon juga akan merekrut sel-sel kekebalan lain untuk menyerang virus agar tidak menyebar. Misalnya, sel darah putih.

    Saat tubuh terserang oleh gas beracun atau radikal bebas maka akan ditangkap oleh kolestrol yang berperan sebagai pelindung sel. Meskipun demikian, virus juga memiliki pertahanannya sendiri untuk menumpulkan atau melepaskan diri dari efek interferon.

    Di tengah pandemi, istilah karantina dan isolasi diri juga sering didengar. Keduanya dapat dilakukan sekitar 14 hari bahkan sebelum timbul gejala. Dalam kurun waktu tersebut sistem kekebalan tubuh mampu membentuk vaksin sehingga dapat menekan sebaran virus dalam tubuh penderita dan ke sekitarnya.

    Isolasi adalah perawatan medis bagi yang sudah positif terinfeksi virus covid-19 dengan cara dipisahkan dari orang sehat dan yang sakit tetapi tidak terinfeksi virus ini. Sedangkan karantina diri berarti tinggal di rumah dan tidak berpergian untuk menurunkan risiko terinfeksi atau menjadi pembawa virus.

    Karantina dilakukan jika memiliki riwayat perjalanan terutama ke Provinsi Hubei, Tiongkok terutama Kota Wuhan atau pernah keluar negeri sejak November 2019 hingga Februari 2020 termasuk jika dilakukan oleh anggota keluarga serumah atau tetangga sebelah rumah.

    Karantina diri juga harus dilakukan oleh mereka yang berisiko terpapar covid-19, seperti sedang demam, batuk, pilek, dan sakit lainnya, memiliki riwayat demam atau ISPA, ada kecurigaan melakukan kontak atau ada riwayat kontak dengan kasus terkonfirmasi virus ini, bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien yang sudah positif covid-19.

    Walaupun biaya pengobatan bagi ODP dan PDP digratiskan oleh pemerintah, tetapi memiliki asuransi jiwa, penyakit kritis, dan kesehatan dengan kombinasi penyakit kritis adalah cara bijaksana ditengah pandemi virus ini karena sakit bisa datang kapan saja.

    Head of Life Operation Sequis Eko Sumurat mengatakan saat seseorang sakit pasti ada biaya yang harus dikeluarkan. Jika memiliki asuransi kesehatan maka biaya perawatan akan ditanggung oleh perusahaan asuransi.

    "Demikian juga jika terjadi risiko meninggal dunia, apalagi virus ini cukup banyak memakan korban maka uang pertanggungan yang ada pada polis asuransi akan sangat bermanfaat bagi ahli waris agar tetap dapat melanjutkan hidup," tukasnya.

    Lebih lanjut, Yosef menyarankan agar masyarakat bersedia tinggal di rumah. Seruan yang sama juga dikatakan oleh Eko karena kesehatan menjadi terasa sangat mahal lantaran bahaya virus ini tidak hanya menyebabkan sakit, tetapi juga kematian.

    Jika bersedia untuk tetap di rumah bahkan saat bulan puasa sekarang ini, -ketika ngabuburit biasanya masyarakat mengisi waktu dengan beraktivitas di luar rumah- maka dengan tetap di rumah saja dan serius menjalankan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah seseorang sudah ikut membantu percepatan penanganan covid ini demi kebaikan bersama.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id