Penguatan Rupiah Merespons Kesepakatan AS-Tiongkok

    Nia Deviyana - 19 Agustus 2020 10:08 WIB
    Penguatan Rupiah Merespons Kesepakatan AS-Tiongkok
    Kurs rupiah dibuka menguat meski dibayangi tren pelemahan. Foto: Antara/Aprilio Akbar
    Jakarta: Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini terpantau menguat. Penguatan rupiah karena pasar merasa lega dengan penundaan peninjauan kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok minggu ini, sehingga membuat perjanjian tetap berdiri dan memperkuat keyakinan bahwa hubungan perdagangan dapat bertahan bahkan di tengah konflik di berbagai bidang lainnya.

    Selain itu AS juga berniat untuk memberikan lebih banyak waktu bagi Tiongkok untuk dapat meningkatkan pembelian barang-barang AS. Fokus pasar minggu ini berada pada rilis risalah rapat kebijakan terakhir Federal Reserve AS (The Fed) dan konvensi nominasi Partai Demokrat AS yang tensinya terus memanas.

    "Pasar menantikan risalah The Fed untuk petunjuk dan antisipasi perubahan dalam prospek kebijakan. Spekulasi tersebar luas bahwa bank sentral AS akan mengadopsi target inflasi rata-rata, dan akan berusaha mendorong inflasi di atas dua persen untuk beberapa waktu guna menutupi tahun-tahun yang telah berjalan di bawahnya," ujar Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, dalam riset hariannya yang dikutip Medcom.id, Rabu, 19 Agustus 2020.

    Dari dalam negeri, internal Bank Indonesia (BI) melaporkan surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada periode April-Juli 2020 sebesar USD9,2 miliar, jauh membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang defisit USD8,5 miliar. Sementara defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga semakin tipis.

    Secara bersamaan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Impor Indonesia pada Juli 2020 tumbuh negatif atau terkontraksi. Dengan kontraksi impor yang jauh lebih dalam ketimbang ekspor, neraca perdagangan membukukan surplus.

    Ada kemungkinan pemulihan ekonomi pada kuartal III-2020 akan kembali terkontraksi sehingga harapan terhindar dari resesi akan sirna. Menurut Ibrahim, pemerintah dan Bank Indonesia harus kembali menggairahkan pasar, terutama sektor konsumsi rumah tangga dan investasi pasca masa transisi PSBB yang akan berakhir di 27 Agustus.

    "Pertanyaannya adalah, pemulihan ekonomi di kuartal ketiga masih menyisakan waktu satu bulan yaitu September, apakah dengan waktu satu bulan kerja keras pemerintah dan Bank Indonesia kembali untuk menggairahkan pasar terutama di sektor Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi bisa mengangkat PDB kuartal ketiga? Atau malah sebaliknya terjadi kontraksi?" papar dia.

    Mengutip Bloomberg, Rabu, 19 Agustus 2020, mata uang Garuda diperdagangkan pada level Rp14.750 per USD, menguat 70 poin atau 0,47 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya di level Rp14.845 per USD.

    Sementara mengutip data Yahoo Finance, rupiah diperdagangkan di posisi Rp14.905 per USD. Meski dibuka menguat, rupiah hari ini masih punya potensi melemah di level Rp14.820-Rp14.920 per USD.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id