Catat, Cara Menetapkan Acuan Saham Agar Bisa Cuan

    Annisa ayu artanti - 04 September 2020 11:18 WIB
    Catat, Cara Menetapkan Acuan Saham Agar Bisa <i>Cuan</i>
    Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
    Jakarta: PT Bahana TCW Investment Management berpandangan persepsi mengenai investasi saham sebagai sarana investasi jangka panjang yang paling menguntungkan kurang tepat. Investor harus memiliki acuan untuk cuan sebagai ukuran dan cara menganalisa aset yang dimiliki agar mencapai hasil yang optimal.

    Lalu bagaimana dan acuan apa agar bisa cuan?

    Dalam keterangannya yang diperoleh Medcom.id, Jumat, 4 September 2020, Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan berdasarkan pengalaman melintasi krisis sejak 1997, investasi di pasar saham tak melulu menguntungkan. Ada acuan yang harus dipegang dalam berinvestasi di pasar saham.

    Mengacu pada data statistik dijelaskan jangka panjang kinerja capital gain saham sesuai dengan sektor riil yang diukur berdasarkan average GDP nominal growth. Nilai harga saham selalu tumbuh mengikuti tren GDP. Namun dalam 12, 15, 20 tahun terakhir hingga Juni 2020 volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari tiga kali lipat lebih besar ketimbang GDP.

    Kondisi itu, menurutnya, mengambil acuan untuk cuan dalam keputusan ambil untung harus mempertimbangkan kinerja saham, yakni melebihi rata rata atau plus satu standar deviasi sektor riil.

    Budi mengungkapkan pihaknya melihat beberapa temuan yakni mengenai angka GDP nominal cenderung menurun. Kondisi tersebut sejalan dengan pelemahan daya beli masyarakat bersamaan dengan berakhirnya era booming komoditas sejak 2012.

    Lalu ditemukan juga angka rata-rata pertumbuhan GDP lebih besar ketimbang IHSG. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan dominasi investor asing, sehingga kinerja tidak memuaskan pasar saham cenderung terkait dengan peningkatan risiko mata uang (currency risk) yang mengkhawatirkan investor asing.

    "Dengan dua temuan ini, kita melihat bahwa investor asing sebetulnya lebih menyukai SBN ketimbang aset saham. Itu sebabnya kinerja SBN selama 10 tahun terakhir lebih besar ketimbang saham," jelasnya.

    Indeks Asset Asian Bond Fund untuk Indonesia yang dikelola oleh Bahana TCW Investment Management memperlihatkan dalam 10 tahun terakhir total return indeks SBN mencapai 134 persen. Sementara pada periode yang sama rupiah telah melemah 64,6 persen yang mengurangi keuntungan investor asing yang berinvestasi pada aset saham.

    Keselarasan antara GDP dan IHSG memberikan acuan bahwa cuan aset saham yang jauh lebih rendah. Selain itu, aset saham small cap sepertinya berjaya ketika era booming komoditas.

    "Terkait peristiwa krisis yang kerap terjadi, kami semakin yakin bahwa crisis is apparently always the best time to make money, if we have idle money and guts. Krisis keuangan global 2008 dan krisis 2020 memiliki kesamaan dalam artian investor asing yang membutuhkan likuiditas melego aset berisiko termasuk di bursa negara berkembang," ujarnya.

    Budi Hikmat mempertimbangkan agar investor tetap bullish pada aset SBN mengingat investor asing kembali melirik aset tersebut meski sempat keluar di saat krisis. Penurunan yield SBN menjadi semacam prasyarat untuk reli aset saham yang lebih persisten selain ditopang faktor penguatan daya beli yang meningkatkan arus cash flow perusahaan.

    "Sebagai kesimpulan, kami mengingatkan agar setiap individu merencanakan dengan cermat masa tabur dan tuai (invest dan harvest) guna meraih kemerdekaan finansial," pungkasnya. 

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id