BI: Dampak Pelemahan Rupiah Kecil ke Inflasi

    Husen Miftahudin - 26 Maret 2020 20:04 WIB
    BI: Dampak Pelemahan Rupiah Kecil ke Inflasi
    Ilustrasi. FOTO: MI/Ramdani
    Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut pelemahan nilai tukar rupiah hanya berdampak kecil bagi pergerakan inflasi. Ini menandakan bahwa harga-harga, utamanya bahan makanan masih terkendali meski mata uang Garuda tersebut hampir menyentuh Rp17 ribu per USD.

    Perry membeberkan empat alasan depresiasi rupiah tak berdampak signifikan bagi perkembangan harga-harga saat ini. Pertama karena ketersediaan pasokan bahan makanan tercukupi, sehingga pengaruh inflasi dari volatille food itu minimal.

    "Kedua, kalau kita bandingkan antara sisi permintaan dan sisi penawaran secara agregat dalam ekonomi kita, kenaikan permintaan itu bisa dipenuhi dari kenaikan penawaran. Sehingga kesenjangan output itu negatif, dampak dari kesenjangan output terhadap inflasi sangat rendah," ungkap Perry melalui telekonferensi dari kantor pusat Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis, 26 Maret 2020.

    Kemudian, lanjutnya, adanya confidence dari kredibilitas kebijakan pemerintah termasuk Bank Indonesia dalam pengelolaan kebijakan moneter sehingga stabilitas harga tercapai. Termasuk upaya bank sentral untuk memastikan sasaran inflasi tercapai dalam kisaran tiga persen plus minus satu persen di tahun ini.

    "Insyaalah sasaran inflasi tiga persen plus minus satu persen itu tercapai. Termasuk juga koordinasi yang erat dengan tim pengendali inflasi pusat maupun daerah," ucap Perry.

    Keempat, Perry memandang upaya dan solusi bersama atas dampak penyebaran covid-19 ini membuat pelemahan rupiah yang diakibatkan oleh kepanikan investor global semakin membaik. Penyelesaian covid-19 melalui kebijakan fiskal dan moneter dapat membuat mata uang Garuda itu kembali stabil dan menguat.

    "Dengan kata lain, pelemahan rupiah yang terjadi sekarang ini adalah bersifat temporer, dan saya tidak yakin sektor korporasi akan menaikkan harganya karena pelemahan rupiah," tutur dia.

    Adapun Perry sebelumnya memproyeksi inflasi Maret 2020 terkendali meski dikepung virus korona. Terkendalinya inflasi di tengah kepungan dampak meluasnya covid-19 merupakan hasil kerja pemerintah dan Bank Indonesia yang terus memastikan terjaganya ketersediaan pasokan bahan makanan.

    Berdasarkan survei pemantauan harga (SPH) yang dilakukan bank sentral hingga pekan ketiga, Perry memastikan inflasi terjaga rendah. Inflasi Maret diproyeksi mencapai 0,11 persen secara month to month (mtm) atau 2,98 persen secara year on year (yoy).

    Membandingkan realisasi inflasi Februari 2020, proyeksi inflasi bank sentral pada Maret ini mengalami perbaikan, artinya perkembangan harga-harga mengalami penurunan. Pada Februari, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi berada di level 0,28 persen (mtm), kemudian 0,66 persen (year to date/ytd), dan 2,98 persen (yoy).

    Tahun ini, Bank Indonesia menargetkan inflasi tahunan berada dalam kisaran tiga plus minus satu persen. Atau berada di rentang kisaran dua hingga empat persen.

    "Kami tidak melihat adanya lonjakan harga, terima kasih masyarakat karena tidak panik untuk nubruk nubruk. Pemerintah sudah berulang kali menegaskan bahwa pasokan bahan makanan, barang, itu tersedia. Dan antisipasi untuk bulan depan masuk Ramadan juga sudah dilakukan," tegas Perry.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id