RI Bakal Tarik Utang dari ADB hingga Bank Dunia USD7 Miliar

    Husen Miftahudin - 08 April 2020 19:04 WIB
    RI Bakal Tarik Utang dari ADB hingga Bank Dunia USD7 Miliar
    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pemerintah sedang berupaya mencari sumber-sumber dana untuk menambal defisit anggaran. Foto: AFP.
    Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pemerintah sedang berupaya mencari sumber-sumber dana untuk menambal defisit anggaran. Pemerintah tengah berusaha meredam dampak virus korona (covid-19) di Indonesia yang tentunya membutuhkan anggaran besar.

    Sebelum itu, pemerintah telah menyatakan akan memaksimalkan sumber dana yang dimiliki telebih dahulu untuk menutup kebutuhan penanganan covid-19. Hal tersebut dilakukan dengan merelokasi sejumlah pos anggaran, penggunaan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA), hingga Badan Layanan Umum (SLU).

    "Pemerintah kemarin sudah menyampaikan akan memaksimalkan sumber-sumber dananya yang dimiliki pemerintah dalam bentuk penggunaan SiLPA dan dari berbagai dana yang ada di endowment fund (dana abadi)," jelas Perry dalam rapat kerja virtual dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu, 8 April 2020.

    Bila kurang, sebut Perry, pemerintah akan memanfaatkan kerja sama dengan berbagai negara dan lembaga internasional untuk meminjam pembiayaan. Seperti, Jerman, Asian Development Bank (ADB) atau Bank Pembangunan Asia, The Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), hingga Bank Dunia.

    "Kemarin dalam investor teleconference, Bu Menteri Keuangan (Menkeu Sri Mulyani) merencanakan ada (pembiayaan) dari ADB, Bank Dunia, Jerman, dan AIIB yang kalau dijumlah-jumlah semuanya itu direncanakan bisa kurang lebih USD7 miliar. Ini sumber-sumber yang dimaksimalkan pemerintah," ungkapnya.

    Selain itu, pemerintah juga menerbitkan global bond atau surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat (USD) dengan nominal USD4,3 miliar. Penerbitan global bonds ini terdiri dari tiga jenis dengan tenor 10,5 tahun, 30,5 tahun, dan 50 tahun.

    Dana dari hasil global bonds itu nantinya juga akan dipergunakan pemerintah untuk menambal defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2020 yang diproyeksi melebar Rp853 triliun atau 5,07 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

    "Dengan seperti itu kebutuhan untuk pembiayaan defisit fiskal melalui pasar domestik, khususnya penerbitan SUN/SBSN bisa diminimalkan sehingga masih bisa dilakukan melalui mekanisme pasar yang selama ini (berlaku)," beber Perry.

    Dalam hal ini bank sentral akan 'turun tangan' bila seluruh upaya yang dilakukan pemerintah dirasa masih kurang untuk menangani covid-19. Berdasarkan Perppu Nomor 1 Tahun 2020, Bank Indonesia bisa membeli surat utang yang diterbitkan pemerintah melalui pasar perdana (primer).

    Namun, BI akan menjadi pembeli terakhir SUN/SBSN jika pasar domestik maupun global tidak mampu menyerap instrumen investasi yang diterbitkan pemerintah tersebut.

    "Kami tegaskan bahwa ini untuk kondisi abnormal. Sesuai Undang-Undang Bank Indonesia kalau kondisinya normal, BI tidak akan melakukan pembiayaan defisit fiskal. Karena kondisi abnormal, ini dimungkinkan, tapi tetap saja kalau memang pasar maupun sumber-sumber pembiayaan lain tidak bisa dilakukan," pungkas Perry.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id