BSI Perkuat Peran Perempuan dalam Pengembangan Ekonomi Syariah

    Husen Miftahudin - 21 April 2021 21:29 WIB
    BSI Perkuat Peran Perempuan dalam Pengembangan Ekonomi Syariah
    Bank Syariah Indonesia. Foto: MI/Andri Widianto



    Jakarta: PT Bank Syariah Indonesia Tbk berkomitmen untuk memperkuat peran perempuan dalam pengembangan ekonomi syariah. Pasalnya, peran perempuan dalam pengembangan sektor ekonomi dan keuangan syariah saat ini sudah sangat signifikan, bahkan banyak membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi dan industri keuangan syariah nasional.

    Berdasarkan data Riset Danareksa, per Agustus 2020 tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan sudah mencapai 53,13 persen. Angka ini mendekati rasio partisipasi angkatan kerja laki-laki sebesar 82,41 persen. Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2018 dan 2019, angkanya masing-masing baru mencapai 51,89 persen dan 51,88 persen.

     



    Partisipasi perempuan dalam pengembangan industri keuangan dan ekonomi syariah juga terlihat dari banyaknya pekerja wanita yang terdapat di Bank Syariah Indonesia. Saat ini, dari total 20 ribu pekerja BSI di seluruh Indonesia, 40 persen di antaranya merupakan perempuan.

    "Jumlah ini tidak bisa dibilang sedikit. Yang menarik adalah porsi perempuan di jajaran senior manajemen sekitar hampir 20 persen," ungkap Direktur Utama BSI Hery Gunardi dalam webinar memperingati Hari Kartini seperti dalam keterangan tertulis, Rabu, 21 April 2021.

    Hery yang juga Bendahara Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) menyebutkan porsi perempuan pada jajaran direksi dan manajemen level pimpinan di BSI yang sudah mencapai sekitar 20 persen membuktikan bahwa peran wanita semakin diperhitungkan baik dari sisi bisnis di dalam keuangan maupun perbankan syariah, khususnya di Bank Syariah Indonesia.

    Hery berharap ke depannya literasi perempuan terhadap produk dan layanan keuangan syariah bisa semakin meningkat. "Perempuan-perempuan yang sudah terlibat dalam pengembangan ekonomi syariah diharap bisa menginspirasi wanita lain agar tak lagi sungkan untuk memegang peran penting memajukan bangsa dan perekonomian negara," tuturnya.

    Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan bahwa saat ini perempuan Indonesia sudah menduduki posisi penting dan strategis dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

    Destry menyebut, saat ini perkembangan ekonomi syariah secara global terus meningkat. Berdasarkan laporan Refinitiv dan ICD, aset keuangan syariah global diproyeksi naik dari USD2,8 triliun pada 2019 menjadi USD3,69 triliun pada 2024 mendatang. Pertumbuhan aset keuangan syariah global ini dipastikan juga terjadi di Indonesia.

    Pertumbuhan yang pesat ini disebutnya juga dilakukan melalui pemberdayaan perempuan. Berbagai program pengembangan usaha syariah dilakukan dengan melibatkan perempuan pelaku usaha syariah maupun para santri putri di pesantren. Hal ini dilakukan agar ke depannya semakin tercipta kesetaraan gender di Indonesia.

    "Kesetaraan gender khususnya perempuan memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan studi dari McKinsey (2018), Indonesia dapat meningkatkan tambahan PDB sebesar USD135 miliar di atas angka normal PDB pada tahun 2025, apabila ada percepatan kesetaraan gender. Hal ini semakin mempertegas bahwa pemberdayaan perempuan akan berdampak positif bagi perekonomian nasional," ucapnya.

    Pimpinan Baznas Saidah Sakwan mengatakan, pelaku industri keuangan syariah, khususnya BSI, juga bisa meningkatkan sinergi untuk pendistribusian dana zakat, infak, dan sedekah demi peningkatan kesejahteraan perempuan. Alasannya, berdasarkan data Baznas saat ini mayoritas kelompok miskin diisi oleh perempuan.

    Padahal, di saat bersamaan potensi nilai zakat di Indonesia jumlahnya cukup besar yakni mencapai Rp327 triliun. Akan tetapi hingga kini baru Rp12 triliun dana zakat, infak, dan sedekah yang bisa disalurkan tiap tahunnya di Indonesia.

    "Dengan zakat, kita diharapkan bisa menaikan kelas para mustahik (penerima zakat) terutama para perempuan agar bisa menjadi pihak yang lebih maju dan berpotensi menjadi entrepreneur. Dalam hal ini, BSI bisa berperan menjadi ibu angkat untuk UMKM penerima dana zakat," pungkas Saidah.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id