comscore

Kewajiban Pembiayaan UMKM Tetap Disesuaikan Rencana Bisnis Masing-Masing Bank

Eko Nordiansyah - 08 September 2021 19:03 WIB
Kewajiban Pembiayaan UMKM Tetap Disesuaikan Rencana Bisnis Masing-Masing Bank
Ketua DK OJK Wimboh Santoso - - Foto: dok OJK
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut, kewajiban pembiayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebesar 30 persen oleh perbankan akan tetap memperhatikan kesiapan dan rencana bisnis (business plan) masing-masing bank.

Menurut Wimboh, saat ini masih banyak bank yang rasio pembiayaannya kepada UMKM berada di bawah 30 persen dari total kredit. Sementara bank yang mencapai di atas 30 persen atau sekitar 34 persen masih sangat minim sehingga butuh dukungan agar target ini bisa tercapai.
"Kalau ada bank yang sudah memenuhi target nasional 30 persen kita dorong. Tapi kalau yang selama ini masih di bawah 30 persen maka sama-sama dikawal agar bisa mencapai threshold. Ibarat lari, ini sama-sama mulai startnya," kata Wimboh dalam video conference, Rabu, 8 September 2021.

Ia menjelaskan, target tersebut dilatarbelakangi karena ketika bank membiayai proyek strategis seperti infrastruktur, mining dan lainnya sangat besar, namun pembiayaan ke UMKM masih kecil. Namun secara individu bank diatur dan disesuaikan dengan bisnis masing-masing.

"Sebenarnya ini yang menjadi perhatian pemerintah, supaya UMKM jangan dilupakan. Kalau ada bank yang sudah besar porsi UMKM-nya ya kita dorong terus untuk tetap tinggi. Jika ada bank yang khusus di sektor korporasi, didorong juga tetap fokus seiring dengan penyaluran ke UMKM," ungkapnya.

Selain itu, Wimboh tetap mengingatkan jangan sampai karena memenuhi target 30 persen UMKM tersebut justru perbankan asal-asalan. Ia ingin bank tidak melupakan kredit di sektor lain, seperti korporasi misalnya yang pertumbuhannya terhambat karena kekurangan pembiayaan.

"Jangan sampai justru target 30 persen ini tapi tak memberikan efek lahirnya entrepreneur-entrepreneur yang berkualitas. Jangan hanya karena memenuhi angka nasional tapi kredit tak memberikan impact," tegas Wimboh.

Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Perbanas, Aviliani, menilai aturan Bank Indonesia (BI) tentang Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) UMKM untuk perbankan minimal 20 persen di Juni 2022 bisa membahayakan industri perbankan. Hal ini juga dinilai akan menyulitkan bank.

"Bahayanya adalah, terutama bank BUKU 3 dan BUKU 4 begitu dia harus biaya infrastruktur yang jumlahnya signifikan, 30 persen ada yang serap enggak? Karena kalau kita lihat kenaikan kelas UMKM sangat lambat, takutnya dipaksakan dan enggak terserap. Apalagi ada denda juga," kata dia dalam webinar di Jakarta,

BI sebelumnya menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) terkait RPIM UMKM yang mewajibkan perbankan memenuhi pembiayaan ke UMKM sebesar 20 persen pada Juni 2022. Bahkan rasio ini dinaikkan secara bertahap menjadi 25 persen pada Juni 2023 dan 30 persen di Juni 2024.

Perluasan target pembiayaan inklusif tersebut dilakukan karena UMKM sangat berperan dalam perekonomian, dengan tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi serta pangsa yang besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga UMKM menjadi kunci pemulihan ekonomi nasional.

Nantinya, akan ada sanksi yang diawali dengan teguran tertulis terlebih dahulu pada Juni 2022 dan Desember 2022. Kemudian sanksi kewajiban membayar sebesar 0,1 persen dikali nilai kekurangan RPIM (maksimal Rp5 miliar untuk setiap posisi pemenuhan RPIM) akan diberlakukan sejak Juni 2023.

Namun, sanksi RPIM akan dikecualikan untuk bank yang sedang dikenakan pembatasan kegiatan usaha seperti kredit/pembiayaan dan/atau penghimpunan dana oleh OJK, Bank Dalam Pengawasan Intensif (BDPI)/Bank Dalam Pengawasan Khusus (BDPK), serta bank perantara.

(Des)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id