OJK Kelompokkan Bank Berdasarkan Modal Inti, Minimal Rp6 Triliun

    Husen Miftahudin - 18 Februari 2021 20:26 WIB
    OJK Kelompokkan Bank Berdasarkan Modal Inti, Minimal Rp6 Triliun
    OJK. Foto : Mi/Ramdani.
    Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan perubahan terhadap pengelompokan bank, dari Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU) menjadi Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI). Perubahan pengelompokan bank ini sejalan dengan diluncurkannya Roadmap Pengembangan Perbankan Indonesia (RP2I) 2021-2025.

    "Redefinisi pengelompokkan Bank berdasarkan Kegiatan Usaha menjadi Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti ini tentunya untuk merespons berlakunya peningkatan modal inti yang sudah kita keluarkan," ungkap Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK Heru Kristiyana dalam Launching dan Konferensi Pers RP2I 2021-2025 secara virtual, Kamis, 18 Februari 2021.

    Adapun pengelompokan baru itu terdiri dari empat KBMI. KBMI I yaitu kelompok bank dengan modal inti minimum Rp6 triliun, KBMI II bermodal inti Rp6 triliun sampai Rp14 triliun, KBMI III dengan modal inti Rp14 triliun hingga Rp70 triliun, sedangkan KBMI IV bermodal inti di atas Rp70 triliun.

    Untuk skema sebelumnya, yakni BUKU I adalah bank dengan minimum modal inti di bawah Rp1 triliun, BUKU II bermodal inti antara Rp1 triliun sampai Rp5 triliun, BUKU III modal intinya di kisaran Rp5 triliun hingga Rp30 triliun, serta BUKU IV bermodal inti di atas Rp30 triliun.

    Heru menjelaskan, pengubahan kelompok bank tersebut karena telah berlakunya Peraturan OJK (POJK) Nomor 12 Tahun 2020 tentang Konsolidasi Bank Umum yang meningkatkan batas modal inti bank. Dengan beleid itu maka status bank BUKU I dan II sudah tereliminasi, sebab POJK 12/2020 menaikkan modal inti bank sedikitnya Rp3 triliun pada 2022.

    "Kita ketahui bahwa modal inti perbankan kita secara bertahap akan menjadi Rp3 triliun, sehingga kita melihat bahwa BUKU I sementara ini sudah mengentaskan dirinya, kemudian sebagian besar bank BUKU II juga sudah demikian sehingga kami menganggap bahwa pengelompokkan berdasarkan BUKU ini tidak relevan lagi di dalam kita melakukan pengawasan kepentingan statistik dan sebagainya," papar dia.

    Ia menegaskan bahwa pengelompokkan baru bank ini ditujukan untuk meningkatkan pengawasan dan kepentingan statistik perbankan. Sehingga, tak ada paksaan dari OJK kepada bank untuk meningkatkan modal inti menjadi Rp6 triliun.

    "Ini sebetulnya hanya untuk kepentingan kita di dalam merespons ketentuan dan aturan yang sudah kita keluarkan, dan tentunya juga supaya kita memudahkan di dalam membuat peer bank-nya dan juga memudahkan kita nanti di dalam pengawasan," tegas Heru.

    Direktur Eksekutif Kepala Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto menambahkan, pengelompokan baru ini juga tidak membuat bank turun kelas. Hal itu dilakukan hanya untuk untuk merespons perubahan statistik dan analisis peer grup agar lebih relevan dan tepat dalam menjalankan kebijakan prudential.

    Ia mencontohkan, saat ini terdapat tujuh bank BUKU IV. Ada empat bank yang modal intinya sudah di atas Rp100 triliun seperti BRI, BNI, BCA, dan Bank Mandiri. Sementara tiga lainnya seperti Bank Danamon, Bank Panin, dan CIMB Niaga masih di bawah Rp50 triliun, sehingga gap di antara sesama bank BUKU IV ini sangat lebar.

    "Panin, Danamon, Niaga kita akan review ulang nanti bank kita terbagi dalam empat KBMI, tidak dalam satu klaster di atasnya. Turun pangkat? Tidak. Kalau dulu BUKU itu berkaitan produk dan aktivitas, KBMI tidak. Jadi aktivitas bank tidak berkurang," pungkas Anung.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id