Pembatasan Mikro Diapresiasi Pasar, Rupiah Kembali Menguat

    Husen Miftahudin - 23 Februari 2021 16:28 WIB
    Pembatasan Mikro Diapresiasi Pasar, Rupiah Kembali Menguat
    Ilustrasi kurs rupiah hari ini - - Foto: Antara/ M Adimaja
    Jakarta: Nilai tukar rupiah akhirnya kembali mengalami penguatan setelah terjungkal imbas runcingnya taji dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan mata uang Garuda tersebut didorong oleh apresiasi para pelaku pasar terhadap kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM).

    Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pemerintah optimistis perpanjangan PPKM Mikro akan menekan laju penyebaran covid-19, sehingga ekonomi domestik di sisa waktu kuartal pertama tahun ini akan sedikit membaik.

    "Di samping itu, vaksinasi yang gencar dilakukan pemerintah juga akan berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat apalagi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mencanangkan kemungkinan besar di 2022 covid-19 akan sirna dan masyarakat sudah bisa kembali bekerja dan pertumbuhan ekonomi akan kembali membaik," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Selasa, 23 Februari 2021.

    Oleh karena itu, sebut Ibrahim, pemerintah menggelontorkan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang cukup besar di awal 2021 sebanyak Rp700 triliun yang berfokus pada kesehatan, vaksinasi, bantuan sosial, Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan UMKM.

    Tujuan stimulus fiskal ini adalah untuk kembali menggerakan ekonomi, dan ini bisa dilihat dari konsumsi masyarakat yang terus membaik. Walhasil, upaya pemerintah ini akan berdampak positif untuk pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2021.

    "Hasil kerja keras pemerintah dan masyarakat tentang penanggulangan pandemi covid-19 perlu mendapat apresiasi dari masyarakat. Karena tanpa kerja keras pejabat pemerintah, tidak mungkin regulasi akan berjalan dengan baik," tuturnya.

    Dari faktor eksternal, Ibrahim memandang bahwa pasar akan kembali fokus pada ekspektasi inflasi yang meningkat dan potensi stimulus ekonomi yang besar. Kenaikan emas pada Jumat dan Senin membuat imbal hasil obligasi pemerintah naik ke level tertinggi satu tahun, sehingga mengurangi daya tarik aset tanpa bunga.

    "Kepemilikan dana yang diperdagangkan di bursa yang didukung emas juga telah melihat arus keluar yang stabil," papar dia.

    Ibrahim menjelaskan bahwa persepsi yang terbangun di pasar saat ini adalah risiko percepatan laju inflasi karena pemulihan ekonomi. Padahal belum lama ini Powell menegaskan belum nampak tanda-tanda percepatan laju inflasi yang signifikan, sedangkan penciptaan lapangan kerja masih jauh dari maksimal.

    "Oleh karena itu, sepertinya kebijakan moneter ultra longgar masih akan bertahan cukup lama. Padahal pasar sudah memperkirakan ada ruang pengetatan karena risiko inflasi. Peluang pengetatan kebijakan moneter ini tergambar di imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang bergerak naik," urai Ibrahim.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id