Asuransi Cigna Diversifikasi di Jalur Distribusi

    Ade Hapsari Lestarini - 12 November 2020 10:46 WIB
    Asuransi Cigna Diversifikasi di Jalur Distribusi
    Presiden Direktur & CEO PT Asuransi Cigna Philip Reynolds. Foto: dok Cigna Indonesia.


    Berdasarkan fenomena tersebut, Ihsanudin menilai industri asuransi bisa menjadikannya sebuah peluang untuk makin mengembangkan bisnis ke arah digital atau insurance technology (insurtech). Mengutip data "Digital in 2017: Southeast Asia" dan "We Are Social dan Hootsuite" (2017), dari sekitar 262 juta populasi di Indonesia, 50 persen di antaranya atau sekitar 132,7 juta jiwa adalah pengguna intenet, 106 juta jiwa merupakan pengguna aktif media sosial, serta 92 juta jiwa merupakan pengguna aktif media sosial melalui aplikasi mobile.

    Hal ini memperlihatkan tingginya kebutuhan masyarakat akan informasi dan respons real time yang cepat dan tepat, serta keinginan mereka untuk mendapatkan kemudahan akses dan Iayanan di mana pun dan kapan pun. Kemajuan teknologi juga ikut memengaruhi perilaku konsumen menjadi pembeli cerdas. Konsumen mencari pengalaman melebihi produk dan jasa yang mereka gunakan.

    Digitalisasi mengubah model bisnis dan pola berpikir konsumen. Bisnis apa pun yang ada akan mengalami disruption di era digital, perusahaan yang bergerak lebih gesit akan memenangkan kompetisi. Hal ini membuat pasar Indonesia semakin menjanjikan, termasuk bisnis asuransi.

    Industri asuransi turut terpukul dampak pandemi covid-19. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengungkapkan pendapatan industri asuransi jiwa pada semester I-2020 sebesar Rp72,57 triliun, turun 38,7 persen dibandingkan capaian pada periode sama tahun lalu (yoy) sebesar Rp118,3 triliun.

    Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon memaparkan penurunan paling tajam terjadi pada hasil investasi yang turun 191,9 persen dari Rp22,82 triliun pada semester I-2019 menjadi negatif Rp20,97 triliun. Namun, lanjut dia, apabila kinerja secara kuartal tahun ini dibedah, kinerja hasil investasi pada kuartal II-2020 yang mencapai negatif Rp20,97 triliun itu membaik jika dibandingkan kuartal I-2020 yang mencapai negatif Rp47,04 triliun.

    Penurunan juga dikontribusikan oleh pendapatan premi yang menurun 2,5 persen pada semester I-2020 jika dibandingkan semester II-2020, dari Rp90,25 triliun menjadi Rp88,02 triliun. Sementara itu, total aset juga mengalami penurunan menjadi Rp493,99 triliun dari Rp550,19 triliun atau turun 10 persen. Untuk kinerja realisasi klaim dan manfaat yang dibayarkan perusahaan asuransi mencapai Rp64,54 triliun atau melambat 1,9 persen dibandingkan periode sama 2019 yang mencapai Rp65,77 triliun.

    AAJI juga mencatat total uang pertanggungan semester I-2020 mencapai Rp4.055 triliun atau naik 1,4 persen dari semester I-2019 mencapai Rp3.997 triliun. Sedangkan total polis menurun 8,1 persen dari 17,6 juta menjadi 16,1 juta polis dengan total tertanggung juga menurun 1,4 persen dari 59,59 juta pada semester I-2019 menjadi 58,75 juta pada semester I-2020.

    Melihat perkembangan asuransi di tengah pandemi covid-19 saat ini, Philips menegaskan bisnis asuransi itu ibarat orang naik gunung yang butuh ketangguhan. Hal ini penting karena ketangguhan itu berkaitan erat dengan kemampuan untuk bangkit. Nasabah, kata dia, butuh ketangguhan perusahaan asuransi, terutama di saat-saat susah. Sebab, nasabah mempercayakan uang dan masa depan mereka pada perusahaan asuransi. Makanya, perusahaan asuransi harus tangguh dan selalu hadir di saat nasabah membutuhkan.

    (AHL)
    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id