Asuransi Cigna Diversifikasi di Jalur Distribusi

    Ade Hapsari Lestarini - 12 November 2020 10:46 WIB
    Asuransi Cigna Diversifikasi di Jalur Distribusi
    Presiden Direktur & CEO PT Asuransi Cigna Philip Reynolds. Foto: dok Cigna Indonesia.
    Jakarta: Diversifikasi saluran distribusi sangat penting bagi Cigna Indonesia di tengah pandemi covid-19. Selain untuk memitigasi risiko, diversifikasi ini juga bisa saling menopang antarsaluran distribusi yang ada. Pada masa pandemi covid-19 ini, Cigna terus mengembangkan saluran digital yang sudah dibangun pada tahun sebelumnya. Sebab, pada saat pandemi, masyarakat cenderung menahan diri untuk melakukan tatap muka.

    Kehadiran saluran digital pun memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi kinerja perseroan. Presiden Direktur & CEO PT Asuransi Cigna Philip Reynolds menuturkan pada masa pandemi covid-19, kegiatan keagenan sempat terganggu karena orang menghindar untuk melakukan tatap muka. Namun, masih bisa ditopang oleh saluran telemarketing dan digital.

    Philips menjelaskan diversifikasi saluran distribusi ini merupakan bagian dari misi Cigna untuk melayani konsumen dengan lebih baik lagi. Di antaranya memberikan perlindungan, meningkatkan kesejahteraan, dan memberikan ketenangan pikiran. Cigna Indonesia tidak mengandalkan salah satu saluran distribusi tertentu untuk menjangkau nasabah dan calon nasabahnya.

    "Cigna Indonesia lebih mengedepankan integrasi beragam saluran distribusi untuk memenuhi kebutuhan nasabah dan calon nasabahnya. Karena itu, walaupun Cigna Indonesia cukup unggul di saluran distribusi telemarketing tetapi Cigna juga menyediakan saluran distribusi keagenan dan digital. Hal ini penting karena konsumen itu terus bergerak dan dinamis. Mereka membutuhkan banyak informasi," ujarnya, Rabu, 11 November 2020.

    Philips mengutarakan asuransi adalah bisnis jangka panjang 10 atau 20 tahun ke depan, karena nasabah mempercayakan masa depan mereka pada perusahaan asuransi. Oleh karena itu, Cigna selalu fokus dan perhatian untuk menjaga kepercayaan nasabah. "Termasuk jika mereka ingin mengajukan klaim maka Cigna harus memenuhi kebutuhan nasabah tersebut," paparnya.

    Saat ini Cigna Indonesia melayani 1,2 juta nasabah. Sedangkan, rasio tingkat solvabilitas atau RBC (Risk Based Capital) Cigna Indonesia pada akhir 2019, tercatat sebesar 269 persen jauh di atas peraturan pemerintah sebesar 120 persen.

    Potensi besar

    Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) 2019 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan inklusi perasuransian sebesar 6,18 persen, jauh di bawah perbankan yang mencapai 73,88 persen. Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pada triwulan I-2019 menyebutkan jumlah nasabah asuransi di Indonesia sebesar 53 juta atau sekitar 25 persen dari populasi. Jumlah ini jauh lebih rendah dibanding Singapura dengan 90 persen warganya menjadi nasabah asuansi.

    Karenanya, Deputi Komisioner Pengawas IKNB II Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Moch Ihsanudin berharap industri asuransi nasional dapat memanfaatkan peluang digitalisasi di tengah pandemi covid-19 lantaran sebagian besar dari 270 juta jiwa masyarakat Indonesia sudah aktif menggunakan telepon seluler. Mengingat, pengguna telepon seluler di Indonesia mencapai 338 juta nomor aktif.
     

    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id