Gasifikasi Batu Bara Ciptakan Penghematan Devisa Rp261 Triliun

    Suci Sedya Utami - 11 November 2020 18:14 WIB
    Gasifikasi Batu Bara Ciptakan Penghematan Devisa Rp261 Triliun
    Batu Bara. Foto : MI.
    Jakarta: Pemerintah terus berupaya hilirisasi dan percepatan peningkatan nilai tambah batu bara. Salah satunya melalui program batu bara menjadi dimethyl ether (DME) atau gasifikasi batu bara sebagai alternatif pengganti LPG yang masih didatangkan dari impor.

    Angka impor LPG terus membengkak setiap tahunnya. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), impor LPG pada 2020 telah mencapai 77,63 persen dari total kebutuhan nasional sebanyak 8,81 juta ton.

    Tanpa upaya hilirisasi batu bara, maka rasio angka impor LPG bisa naik menjadi 83,55 persen dari total kebutuhan 11,98 juta ton di 2024. Hal ini tentu menjadi beban bagi devisa negara. Maka dari itu diperlukan gasifikasi batu bara untuk menghemat devisa.

    Komitmen pengembangan gasifikasi batu bara terus dijalankan oleh PT Bukit Asam Tbk (Persero) atau PTBA. Perusahaan pelat merah ini telah merencanakan untuk membangun pabrik gasifikasi batu bara menjadi DME di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

    "Sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo, program pemanfaatan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah batu bara ini tentunya bisa memberikan sejumlah manfaat dan dampak positif bagi Indonesia," kata Sekretaris Perusahaan PTBA Apollonius Andwie C dalam keterangan resmi, Rabu, 11 November 2020.

    Apollonius mengatakan beberapa manfaat nilai tambah program gasifikasi batu bara antara lain dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sebab proyek ini akan mendatangkan investasi sebesar USD2,1 miliar atau setara Rp32 triliun ke Indonesia.

    Pengembangan pabrik ini akan memanfaatkan cadangan batu bara kalori rendah PTBA yang berpotensi tidak dapat dijual sebanyak 180 juta ton selama 30 tahun. Pabrik gasifikasi batu bara akan mengolah sebanyak enam juta ton batu bara per tahun untuk diproses menjadi 1,4 juta ton DME. Produk ini mampu membantu mengurangi impor LPG sebanyak lebih dari satu juta ton per tahun.

    "Pengurangan impor LPG tersebut dapat menghemat cadangan devisa negara sebesar Rp8,7 triliun per tahun atau Rp261 triliun selama 30 tahun," ujar Apollonius.

    Selain membawa sejumlah manfaat tersebut, hilirisasi batu bara tentunya juga memiliki multiplier effect bagi Indonesia di antaranya adalah manfaat langsung yang diperoleh pemerintah senilai Rp800 miliar per tahun atau Rp24 triliun selama 30 tahun.

    Penghematan neraca perdagangan sebesar kurang lebih Rp5,5 triliun per tahun atau senilai Rp165 triliun selama 30 tahun. Serta pemberdayaan industri nasional dengan melibatkan tenaga lokal dan penyerapan jumlah tenaga kerja sebanyak 10.570 orang saat tahap konstruksi dan 7.976 orang selama masa operasi.  


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id