Pasar Modal Bikin Laba BRI Syariah Meningkat Dua Digit

    Ilham wibowo - 05 Oktober 2020 15:57 WIB
    Pasar Modal Bikin Laba BRI Syariah Meningkat Dua Digit
    BRI Syariah menorehkan kinerja positif dan pertumbuhan di atas rata-rata sejak bergabung di pasar modal. Foto: MI/Angga Yuniar.
    Jakarta: Keberadaan perbankan syariah sebagai perusahaan tercatat di bursa diyakini menjadi solusi untuk memperbesar struktur permodalan dan pendanaan. Daya tahan dan potensi perkembangan industri keuangan dan pasar modal syariah mempercepat realisasi proyeksi pertumbuhan.

    Direktur Operasional BRI Syariah Fahmi Subandi mengatakan bahwa sejak melakukan penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO), saham di pasar modal syariah 2018 menorehkan kinerja positif dan pertumbuhan di atas rata-rata.

    Pertumbuhan nilai aset, pembiayaan, kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) hingga pendanaan murah (CASA) juga selalu di atas raihan sebelum bank melantai di bursa, bahkan selama pandemi covid-19.

    "Nilai aset kami sebelum IPO tumbuh rata-rata 14 persen dalam kurun tiga tahun ke belakang. Pasca IPO nilai pertumbuhannya 16 persen lebih. Pembiayaan yang sebelumnya tumbuh rata-rata satu digit sekarang bisa dua digit secara tahunan," kata Fahmi dalam webinar, Senin, 5 Oktober 2020.

    Hingga Agustus 2020, BRI Syariah berhasil mencatat kenaikan perolehan laba bersih sebesar 158,46 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp168 miliar. Pertumbuhan ini ditopang naiknya pendapatan dari penyaluran dana BRI Syariah sebesar 19,75 persen yoy menjadi Rp1,94 triliun.

    "Komposisi dana murah kami juga tumbuh dari sebelumnya 30 persen sekarang menjadi 50 persen lebih. Ini bermanfaat karena peningkatan CASA menandakan efisiensi yang tumbuh dari penurunan biaya dana,” ujar Fahmi.

    Fahmi lantas mengajak seluruh pelaku industri keuangan syariah, khususnya perbankan untuk segera mengikuti jejak melantai di bursa. Diferensiasi sumber pendanaan dengan memanfaatkan keberadaan pasar modal syariah menjadi hal penting yang harus dilakukan, agar perbaikan tata kelola yang lebih baik dapat dilakukan perbankan syariah.

    "Dengan masuk bursa memberi pengalaman kami untuk memperbaiki struktur permodalan. Ada juga tantangan lain yang akhirnya harus kami ikuti dan kembangkan, seperti misal tuntutan governance perusahaan meningkat, dan kami harus bisa sajikan value kami dengan baik ke publik," ungkapnya.

    Ia sangat meyakini, pertumbuhan industri keuangan dan pasar modal syariah di Indonesia ke depannya bisa lebih masif lagi. Keyakinan ini muncul karena Indonesia memiliki modal besar yakni jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

    Menurutnya, potensi pesatnya pertumbuhan industri keuangan syariah terlihat dari masih kecilnya market share perbankan syariah dibanding bank-bank konvensional yakni sebesar 6,18 persen per semester I-2020. Angka ini menunjukkan bahwa pasar industri perbankan syariah baru melayani enam persen dari seluruh nasabah pengguna layanan perbankan di Indonesia.

    "Kita memiliki ruang tumbuh besar untuk menggarap sektor-sektor yang sekarang masih dipegang bank konvensional. Apalagi saat ini pemerintah juga semakin menunjukkan dukungannya terhadap industri keuangan syariah dengan menerbitkan beberapa regulasi baru, dan menguatkan peran Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang berubah menjadi Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS)," pungkasnya.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id