comscore

Investor Was-was Inflasi AS, Rupiah Libas Dolar AS

Annisa ayu artanti - 21 Juni 2022 17:03 WIB
Investor Was-was Inflasi AS, Rupiah Libas Dolar AS
Mata uang rupiah. Foto : MI.
Jakarta: Mata uang rupiah cukup perkasa pada perdagangan hari ini. Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah kembali menguat 23 poin walaupun sebelumnya sempat menguat 51 poin di level Rp14.812 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp14.836 per USD.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah disebabkan oleh Dolar AS yang melemah terhadap mata uang lainnya. Pelemahan tersebut dipicu oleh sikap investor yang mengawasi sikap dari bank sentral utama untuk mengekang inflasi.
"Bank sentral utama mengambil tindakan untuk menjinakkan inflasi dan menaikkan suku bunga, menambah kekhawatiran investor tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa, 21 Juni 2022.

St. Presiden Fed Louis James Bullard memperingatkan, ekspektasi inflasi AS bisa menjadi tidak tertambat tanpa tindakan Fed yang kredibel. Sementara mantan Menteri Keuangan Lawrence Summers menyarankan untuk melawan tekanan harga.

Di Eropa, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mengatakan para pejabat berniat untuk menaikkan suku bunga pada Juli dan September meskipun ada kekhawatiran atas ketegangan pasar keuangan.

Sementara itu dari dalam negeri sentimen yang menjadi pendorong rupiah adalah sikap pelaku pasar mengapresiasi kinerja pemerintah tentang utang luar negeri yang menyusut di tengah banyak negara diambang kebangkrutan akibat konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan menjadikan harga komoditas melonjak.

"Dengan lonjakan harga tersebut maka Indonesia mendapatkan keuntungan dan berkah, sehingga berimbas terhadap utang pemerintah yang semakin sehat disebabkan oleh penurunan rasio terhadap Produk Domestik Bruto," ucapnya.

Menurutnya, hal tersebut menjadi kabar baik. Pasalnya, ke depan risiko akan melonjaknya utang menjadi sangat tinggi. Rasio utang terhadap PDB saat ini adalah 39 persen dengan nominal utang mencapai Rp7.040,32 triliun.

"Nah dengan penerimaan yang kuat dari lonjakan harga komoditas, rasio utang  terhadap PDB sebenarnya telah turun 13 persen. Dan ini merupakan prestasi tersendiri di zaman pemerintahan Joko Widodo yang penuh dengan gejolak akibat covid-19," jelasnya.

Untuk perdagangan esok hari, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah kemungkinan dibuka  berfluktuatif namun ditutup menguat tipis di rentang Rp14.790-Rp14.840 per USD.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id