comscore

Jadi Lokomotif Ekonomi Syariah, Pemerintah Perlu Perkuat Status BSI

Eko Nordiansyah - 23 Februari 2022 13:16 WIB
Jadi Lokomotif Ekonomi Syariah, Pemerintah Perlu Perkuat Status BSI
Gedung Bank Syariah Indonesia. FOTO: MI/Andri Widianto
Jakarta: Pemerintah dinilai perlu memperkuat status PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menjadi lebih dari sekadar entitas anak usaha. Tujuannya adalah agar peran strategis BSI sebagai lokomotif ekonomi dan keuangan syariah di Tanah Air semakin kokoh dan mengakar.

Seperti diketahui, BSI lahir pada 1 Februari 2021 atas inisiasi Kementerian BUMN melalui penggabungan dari anak usaha tiga bank syariah milik Himbara yaitu PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank BRIsyariah Tbk. Saat itu, pada hari lahirnya BSI, Presiden Joko Widodo menaruh harapan besar.
BSI diharapkan benar-benar menjadi bank syariah yang universal, terbuka, inklusif agar menjangkau lebih banyak masyarakat di Tanah Air. Selain itu diharapkan pula melalui peran besar BSI, Indonesia sebagai penduduk muslim terbesar di dunia menjadi salah satu negara yang terdepan dalam hal perkembangan ekonomi syariah.

Dengan proyeksi tersebut, Pengamat Ekonomi dan Perbankan Binus University Doddy Ariefianto mengatakan, BSI masih memiliki satu kelemahan utama. Kelemahan itu yaitu masih berstatus sebagai anak usaha bank BUMN. Padahal untuk melebarkan sayap, status BSI harus lebih kuat dari sekadar anak usaha.

"Saya pikir BSI harus menjadi entitas sendiri, kalau negara ini serius mengembangkan ekonomi syariah," kata Doddy, dalam keterangan di Jakarta, Rabu, 23 Februari 2022.

Mengutip laporan keuangan perseroan per Desember 2021, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memiliki 50,83 persen saham BSI, diikuti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI sekitar 24,85 persen, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI sekitar 17,25 persen, pemegang saham lain di bawah lima persen, termasuk publik 7,08 persen.

Doddy menjelaskan status BSI sebagai anak usaha tiga Bank BUMN akan membuatnya sulit menentukan arah bisnis secara mandiri. Padahal bank syariah seharus lepas dari bayang-bayang bank konvensional untuk berkembang lebih cepat, misalnya melalui kemitraan yang solid dengan organisasi kemasyarakatan yang memiliki basis Islam yang kokoh.

"Hal ini akan mempermudah bisnis pembiayaan BSI dan memperluas akses terhadap nasabah maupun debitur baru. Target pengembangan bank syariah ini harus bisa membidik sektor produktif. Saat ini banyak bisnis halal, mulai dari hijab, kosmetik, hingga makanan dan minuman," kata Doddy.

Seperti diketahui, potensi industri halal di Indonesia sangatlah besar dengan nilai kurang lebih mencapai Rp4.375 triliun. Dari total nilai tersebut, Industri makanan dan minuman halal menyedot porsi terbanyak yaitu senilai Rp2.088 triliun disusul aset keuangan syariah senilai Rp1.438 triliun.

Doddy menambahkan sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI juga memiliki tugas berat untuk memperkuat citra bank yang menawarkan produk perbankan sesuai dengan prinsip syariah. Artinya BSI harus sekuat tenaga menjaga kredibilitas bahwa bank syariah adalah sebuah bisnis yang mengedepankan moral.

"Satu nilai jual bank syariah yaitu fairness, untung berbagi, rugi berbagi. Syariah itu mitra di saat susah dan senang," ujar Doddy.

Tingkatkan kompetensi di era digital

Terpisah, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno mengatakan hal yang harus diperhatikan untuk memperkuat BSI agar perannya semakin terasa adalah meningkatkan kompetensi. Dengan kompetensi yang mumpuni, pengelola BSI tentunya akan lebih mendorong efisiensi.

"Kompetensi pengelola akan menentukan sesuatu hidup dalam jangka panjang. Era digital di depan mata. Percaturan bank digital ditentukan oleh efisiensi," ungkap Hendrawan.

Saat ini BSI menguasai lebih dari 40 persen aset perbankan syariah di Tanah Air. Per Desember 2021 bank ini membukukan aset senilai Rp265,29 triliun, naik 10,73 persen year on year (yoy) atau secara tahunan. Capaian ini lebih baik dibandingkan dengan industri perbankan yang menorehkan pertumbuhan aset 8,27 persen (yoy).

Pertumbuhan aset BSI sepanjang 2021, disokong oleh penyaluran pembiayaan yang naik 9,32 persen secara tahunan menjadi Rp171,29 triliun. Bila dibedah, pembiayaan ritel melesat 12,62 persen (yoy) menjadi Rp121,91 triliun, sedangkan pembiayaan wholesale tumbuh secara konservatif atau 2,31 persen (yoy) menjadi Rp49,38 triliun.


(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id