LPS: Bank Kecil Rentan Alami Risiko Likuiditas

    Antara - 23 Juni 2020 14:40 WIB
    LPS: Bank Kecil Rentan Alami Risiko Likuiditas
    Foto: dok MI/Susanto.
    Jakarta: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyebut industri perbankan di Indonesia memiliki bantalan yang cukup dalam menghadapi gejolak akibat covid-19. Namun bank kecil dinilai rentan mengalami risiko terkait daya tahan likuiditas jangka panjang.

    "Kita harus mewaspadai adanya risiko segmentasi likuiditas yang mulai menunjukkan tendensi peningkatan," kata Anggota Dewan Komisioner LPS Didik Madiyono, dalam webinar efektivitas stimulus fiskal di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 23 Juni 2020.

    Menurut dia, segmentasi likuiditas ini berpotensi timbul antara lain bersumber dari risiko penurunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Serta penurunan arus kas atau cash inflow di tingkat individual bank.

    Dia menjelaskan peningkatan risiko itu dipicu buruknya kualitas kredit dan likuiditas. Sehingga dapat meluas dan memengaruhi sisi pendanaan, pendapatan, dan biaya.

    Di satu sisi, lanjut dia, rendahnya pertumbuhan kredit akan memengaruhi pendapatan bunga. Di sisi lain, meningkatnya risiko kredit akan meningkatkan kewajiban pencadangan bank.

    "Secara individual, dampak kondisi pemburukan ekonomi bervariasi dan berbeda tergantung daya tahan masing-masing bank," tambah dia.

    Didik mencermati aspek kualitas kredit perlu menjadi perhatian ke depan. Ini dilihat sebagai kerentanan lain yang dapat memburuk dengan cepat jika pandemi virus korona ini berkepanjangan atau proses pemulihan berjalan lambat.

    "Indikasi tersebut terlihat dari adanya kecenderungan kenaikan rasio credit at risk," ujarnya.

    Direktur Grup Riset LPS Iman Gunadi menjelaskan rasio credit at risk perbankan pada April 2020 mencapai 14,8 persen. Angka ini naik dibandingkan posisi Maret 2020 mencapai 11,4 persen.

    Rasio credit at risk ini merupakan gabungan kredit bermasalah (NPL), kredit dengan kolektabilitas 2 dan restrukturisasi kredit. Sehingga dianggap kredit lancar atau kolektabilitas 1.

    "Ini didorong oleh peningkatan credit at risk di bank-bank besar dibandingkan Maret, pada April 2020 meningkat cukup tajam 16,36 persen," ungkapnya.

    Sedangkan dalam jangka pendek, kondisi likuiditas perbankan masih relatif stabil dan sehat meski ada tendensi penurunan kinerja.

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2020 mencatat rasio modal perbankan mencapai 22,03 persen. Sementara rasio kinerja keuangan 2,31 persen, rasio beban operasional terhadap pendapatan (BOPO) mencapai 84,84 persen dan NPL 2,89 persen.

    "Bank kecil ini rentan dalam kondisi seperti ini di mana dari sisi permodalan tidak cukup besar, risiko DPK terpusat di beberapa deposan saja, risiko kreditnya juga meningkat," pungkasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id